Pojokkiri.com

Ciblek Gunung: Burung Kecil dengan Suara Gahar ala AK-47 yang Jadi Incaran Penghobi

 

Burung ciblek gunung koleksi wartawan Pojok Kiri.(Foto: Pojok Kiri/Zainul Lutfi)

 

Lamongan, Pojok Kiri.com-Di kalangan penghobi burung kicau, nama ciblek gunung kian populer. Dikenal memiliki suara khas panjang dan rapat seperti tembakan senjata AK-47, burung ini menjadi incaran utama untuk dijadikan masteran ataupun kontestan lomba. Tak heran jika ciblek gunung kini semakin langka, terutama di kawasan Jawa Timur.

Ciblek gunung memiliki postur yang sedikit lebih besar dari jenis ciblek lainnya. Ciri khas fisiknya antara lain warna dominan coklat tua, ekor panjang, dan garis hitam di kepala yang menyerupai rambut habis disisir rapi. Keunikan lain dari burung ini adalah kemampuannya menghasilkan suara yang lantang, panjang, dan sangat cepat (speed rapat), sehingga sering dijadikan suara isian burung lain seperti murai batu, cucak ijo, atau kacer.

Namun, tidak semua ciblek gunung mampu mengeluarkan suara khas tersebut. Hanya ciblek gunung jantan yang memiliki kemampuan vokal istimewa. Sayangnya, membedakan jantan dan betina tidaklah mudah bagi pemula. Di sinilah pentingnya pengetahuan dan ketelitian saat memilih ciblek gunung di sangkar ombyokan.

Ciblek gunung ombyokan biasanya dijual dalam jumlah banyak dalam satu kandang. Untuk mendapatkan yang jantan, berikut ciri-ciri yang perlu diperhatikan.

Lebih aktif, lincah, dan sering berkicau, mata melotot tajam, nafsu makan tinggi, warna bulu lebih gelap (coklat tua), garis hitam di kepala tampak jelas paruh bagian atas dan bawah cenderung hitam, ujung lidah berwarna hitam dan postur lebih tegak dan mencengkeram kuat saat bertengger, serta yang tak kalah penting, pastikan burung tidak memiliki cacat fisik maupun mental.

Merawat ciblek gunung hasil tangkapan hutan memang memerlukan kesabaran ekstra, khususnya untuk membiasakan makan voer. Namun dengan pola perawatan yang konsisten, ciblek gunung bisa cepat gacor dan rajin bunyi.

Berikut pola rawatan harian yang direkomendasikan pagi (06.00): Keluarkan burung, bersihkan sangkar, dan mandikan hingga basah kuyup. Ganti air dan campur voer halus dengan ulat kandang atau kroto. Tambahkan 5 ekor jangkrik kecil di cepuk terpisah.

Pagi (07.00 – 09.00): Jemur selama 2 jam. Hindari interaksi dengan burung lain sampai ciblek beradaptasi, pagi (09.30): Istirahat dalam ruangan sejuk, sangkar dikerodong, dan mulai mastering dengan suara ciblek pelan, sore (15.00): Mandikan ulang, beri 3 jangkrik, kroto 1 sendok makan, dan kontrol pakan.

Kemungkinan Sore (17.00) dikerodong kembali, lanjut mastering hingga pagi. Kesimpulan, gacor tergantung Ketelatenan

Ciblek gunung bisa menjadi burung andalan jika dirawat dengan penuh kesabaran. Meskipun mayoritas ciblek yang dijual merupakan hasil tangkapan hutan, bukan anakan penangkaran, kualitas suara tetap bisa dioptimalkan lewat pemilihan yang tepat dan pola rawat harian yang konsisten.

Jadi, bagi Anda yang tengah mencari burung isian atau sekadar penambah koleksi kicau, ciblek gunung jantan bisa jadi pilihan tepat. Pastikan hanya memilih burung sehat dan tidak terburu-buru dalam proses perawatannya. Ingat, suara “AK-47” tidak datang dalam semalam.(lut)