
Lamongan, Pojok Kiri.com-Misteri penemuan mayat pria yang mengambang di Bantaran Bengawan Solo, Desa Kuluran, Kecamatan Kalitengah, akhirnya terungkap.
Jasad tersebut diketahui memiliki keterkaitan langsung dengan sepeda motor metik yang sebelumnya ditemukan terparkir tanpa pemilik di atas Jembatan Karanggeneng.
Penemuan jasad itu pertama kali diketahui pada Senin (26/1/2026) sore oleh seorang pencari rumput bernama Hanafi (35), warga Desa Kuluran. Saat mencari rumput di bantaran sungai, Hanafi melihat sesosok tubuh pria mengambang di aliran Bengawan Solo.
“Saksi melihat ada mayat mengambang lalu melaporkannya ke Polsek Kalitengah,” ujar AKP Hery Prastya, Selasa (27/1) pagi, kepada Wartawan Pojok Kiri melalui sambungan telepon.
Mendapat laporan tersebut, jajaran Polsek Kalitengah yang dipimpin langsung oleh Kapolsek segera mendatangi lokasi untuk melakukan proses identifikasi dan mengevakuasi korban ke rumah sakit.
Hasil penyelidikan menyatakan bahwa jasad pria tersebut merupakan pemilik sepeda motor metik bernopol S-4081-JCM yang sebelumnya ditinggalkan di atas Jembatan Bengawan Solo Karanggeneng pada Minggu (25/1/2026) dini hari.
Korban diketahui bernama Nur Afandi (31), warga Dusun Tuyoh, Desa Pangkatrejo, Kecamatan Lamongan Kota. Almarhum berprofesi sebagai petugas keamanan (Satpam) di PT Katika Waskita Indonesia.
“Setelah pendalaman penyidikan, jasad yang ditemukan dipastikan adalah pemilik sepeda motor yang ditinggalkan di jembatan,” jelas AKP Hery.
Polisi juga mengungkap dugaan motif yang melatarbelakangi korban nekat menceburkan diri ke Bengawan Solo.
Berdasarkan keterangan keluarga dan hasil penyelidikan, korban diduga mengalami tekanan psikologis akibat gagal melangsungkan pernikahan.
“Korban mengalami frustasi karena batal menikah. Calon istri menginginkan pesta pernikahan mewah di gedung resepsi, sementara korban dengan kondisi ekonomi pas-pasan tidak mampu memenuhinya,” ungkap AKP Hery Prastya.
Diduga kuat, perasaan putus asa tersebut mendorong korban untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari Jembatan Karanggeneng. Jasadnya kemudian ditemukan mengambang di wilayah tanah bengawan Desa Kuluran, Kecamatan Kalitengah.
“Kasus ini menjadi pengingat bahwa tekanan ekonomi dan sosial dapat berdampak serius pada kondisi mental seseorang. Polisi mengimbau masyarakat agar lebih peka terhadap lingkungan sekitar dan segera mencari bantuan apabila mengalami tekanan berat,”pungkas AKP Hery Prastya.(lut)
Editor: ZAINUL LUTFI
Sumber: WWW.POJOK KIRI.COM DAN KORAN HARIAN PAGI POJOK KIRI

