
Gresik, pojokkiri.com
Akibat kemarau panjang, musim tanam di Kabupaten Gresik terhambat. Para petani pun hanya bisa pasrah. Lahan pertanian mereka kering, tidak ada suplai air.
Seperti di Desa Tanahlandean, Kecamatan Balongpanggang. Sebagian besar penghasilan masyarakat sekitar bergantung pada sektor pertanian, khususnya komoditas padi dan kangkung.
“Masa tanam pertama ini sangat terhambat dampak musim kemarau. Tidak ada air sama sekali untuk pertanian,” kata Esdi Wariono sambil melihat area pertanian di desa setempat.

Esdi Wariono menyampaikan, keterlambatan waktu tanam akan berdampak saat masa panen raya nanti, dipastikan mundur. “Mau gimana lagi, hanya bisa pasrah,” imbuh pria yang juga perangkat desa tersebut.
Senada disampaikan Sampurno, setiap tahun terdapat tiga musim tanam. Di desa Tanahlandean sendiri musim tanam pertama dan kedua komoditas padi, ketiga kangkung.
“Saat musim panen pertama awal tahun 2024 para petani masih bisa menikmati hasil penen padi, meskipun tidak begitu besar,” ujarnya.
Sementara untuk musim panen kedua, para petani merugi. Hal itu disebabkan kemarau yang cukup panjang. Sedangkan musim panen ketiga komoditas sayur kangkung.
“Alhamdulillah para petani masih dapat untung, karena ketersediaan air masih ada,” imbuhnya.
Kepala Desa Tanahlandean Feri Hermawan mengatakan, sekitar 80 persen penghasilan warganya dari hasil pertanian. Sedangkan sisanya ada yang berdagang dan bekerja di industri.
“Pertanian menjadi tumpuan utama perekonomian di desa kami,” kata Feri Hermawan.
Pihaknya berharap, ketersediaan pupuk untuk mendukung pertanian di kabupaten Gresik. Sehingga para petani tidak kesulitan mendapatkan pupuk, baik subsidi maupun non subsidi.
“Harapan kami, musim tanam ini dan selanjutnya para petani mudah mendapatkan pupuk. Sehingga, dapat mendukung pertumbuhan padi mereka agar mendapatkan hasil maksimal,” harapnya. (Dyo)

