Pojokkiri.com

Menjaga Fisik dan Hati Selama Puncak Haji? Ning Lia Bagikan Kunci Sukses Hadapi Kepadatan Armuzna

Anggota DPD RI Lia Istifhama

Makkah Pojokkiri.com – Puncak ibadah haji yang dinanti-nantikan oleh jutaan umat Muslim kini telah tiba. Rangkaian fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) yang berlangsung sejak 8 hingga 13 Zulhijjah menuntut ketahanan yang luar biasa dari para dhuyufurrahman. Setelah berminggu-minggu menjalani ibadah wajib dan sunnah di tanah suci, stamina para jamaah kini benar-benar diuji di bawah cuaca dan kepadatan yang ekstrem.

Memahami beratnya perjuangan para jamaah, Anggota DPD RI asal Jawa Timur yang saat ini juga sedang menunaikan ibadah haji, Dr. Lia Istifhama, mengulurkan pesan penuh empati. Menurut senator yang akrab disapa Ning Lia ini, kunci utama untuk melewati fase krusial ini bukan hanya terletak pada kekuatan fisik, melainkan pada kekuatan hati dan indahnya solidaritas antar-sesama.

Berada jauh dari keluarga tercinta di tengah jutaan manusia dari berbagai belahan dunia tentu menghadirkan tantangan psikologis tersendiri. Perbedaan suhu, cuaca yang menyengat, serta ritme ibadah yang padat berpotensi memicu rasa lelah dan stres. Dalam situasi seperti inilah, Ning Lia mengingatkan bahwa rasa persaudaraan harus dikedepankan.

“Solidaritas dan semangat persaudaraan para jamaah adalah kunci tumbuhnya psikologi yang nyaman. Hal ini sekaligus mendorong kekuatan fisik secara alami para jamaah untuk tetap menjalankan ibadah dengan bahagia dan ikhlas, karena kita semua sedang jauh dari keluarga yang kita cintai,” ujar Ning Lia dengan penuh takzim.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kenyamanan psikologis ini bisa dibangun dari lingkaran terdekat selama di tanah suci, yakni teman sekamar dan rombongan kloter.

“Kita semua lagi di negeri orang dengan situasi yang berbeda dengan negeri asal, terutama terkait suhu dan cuaca, dan kita bersama dengan jamaah dari berbagai belahan dunia. Maka pikiran positif harus dikuatkan dan terus ditumbuhkan. Ini akan berhasil dan alami menyatu dari diri jika teman sekamar atau teman rombongan kita sama-sama saling menguatkan kebersamaan,” terangnya.

Salah satu ketakutan terbesar jamaah haji adalah tersesat atau terpisah dari rombongan di tengah lautan manusia. Menanggapi hal ini, Ning Lia membagikan pengalaman pribadinya yang menyentuh hati saat harus berjuang sendirian menembus kepadatan di Terminal Syib Amir setelah turun dari bus sholawat yang terjebak macet menjelang waktu subuh.

“Saya membangun pikiran sederhana, bahwa saya harus sendiri karena tidak mungkin berjalan berdampingan, pasti terpisah juga. Maka bismillah saya pulang sendiri. Kuncinya hanya berpikir positif, bahwa pasti banyak juga jamaah yang seperti saya namun mereka juga baik-baik saja,” kenang Ning Lia membagikan tips ibadah haji Armuzna dari pengalaman personalnya.

Ia juga membagikan trik visual sederhana yang sangat membantu jamaah Indonesia di lapangan:

“Yang utama, selalu cari jamaah Indonesia atau jamaah dari negara asal selama kita berjalan kaki. Jadi kebetulan jamaah regular kan mengenakan ransel BSI (Bank Syariah Indonesia), maka meski saya berjalan cepat menerobos kepadatan jamaah, saya akan terus menemukan penanda ransel BSI. Dan tersenyum sekaligus menyampaikan kata afwan atau maaf jika mencoba mendahului jamaah lainnya.” katanya.

Selain mencari penanda visual khas Indonesia, memahami navigasi makro seperti posisi gedung-gedung besar juga menjadi penyelamat di kala bingung.

“Kemudian memilih jalan dari sisi luar, bukan memilih akses masuk ke masjidil haram, tapi akses jalan menuju sisi pelataran masjidil haram atau zam-zam tower. Jadi pasti berbeda dengan tujuan jamaah yang semula turun dari terminal, karena mereka umumnya memilih akses masuk masjid. Tapi sekali lagi tidak perlu panik, bismillah sih kuncinya. Jika tidak menemukan jamaah Indonesia lagi, maka kita fokus menuju penanda tower tempat kita menginap,” imbuhnya.

Sebagai bagian dari tim pengawasan haji melalui Komite III DPD RI, Ning Lia sangat memahami bahwa dalam mengelola jutaan manusia, ketidaksempurnaan fasilitas adalah sebuah keniscayaan. Antrean panjang kamar mandi yang mengular, tenda Mina yang padat hingga hanya bisa digunakan untuk duduk, serta kemacetan jalur transportasi adalah ujian kesabaran yang nyata. Namun, di sinilah esensi dari ibadah haji yang sesungguhnya diuji.

“Kita harus mengakui, bahwa Kementerian Haji atau Kemenhaj sudah berusaha memberikan kemudahan kelancaran sejak jamaah haji hendak berangkat hingga di tanah suci. Namun sekali lagi, kita semua di negeri orang, berjumpa dengan jutaan jamaah lintas negara, di waktu dan tempat yang sama. Jadi pasti sangat muncul potensi kepadatan, baik perjalanan yang macet dan menempuh jarak jalan kaki belasan kilo, akses kamar mandi antrian mengular, maupun tenda di mina yang sangat padat dan hanya bisa digunakan duduk saja misalnya, maka semoga hal ini menjadi kepasrahan diri selama beribadah,” ungkapnya bijak.

Mengakhiri pesan empatiknya, Ning Lia mengajak seluruh jamaah untuk merenungkan kembali betapa beruntungnya mereka bisa berdiri di tanah suci, memeluk segala kekurangan dengan rasa syukur yang mendalam.

“Apa yang kurang, semoga kita bisa ikhlas menerima, karena kita telah dipanggil di tanah suci ketika jutaan lainnya masih antri untuk berhaji. Bismillah jika ada kesulitan atau ketidaknyamanan, kita bisa melalui. Kemudian dalam hitungan jam, kita bisa menemukan kenyamanan kembali. Intinya kan apa yang kita rasakan, itu juga dirasakan dan dilalui jamaah lainnya. Jadi ketika mereka juga ikhlas, maka semoga kita juga,” pungkas Ning Lia seraya tersenyum hangat (sul).