
Oleh: Robai Hamid putu salam
Ketika ada pertanyaan, berat mana syukur ketika diuji, dan sabar ketika mendapat nikmat. Atau, syukur ketika diberi nikmat, dan sabar ketika diuji. Atas pertanyaan itu,
tiba-tiba saya teringat, imam Ibnu Mubarak dan imam Sadzili. Saat hari merdeka ini, saya membaca, betapa beratnya bisa bersabar saat jaya. Bisa sabar saat mendapat kenikmatan. Bisa sabar saat berpesta. Bisa sabar saat panen. Sabar saat mendapatkan kedudukan. Dan bisa bersyukur saat belum merdeka. Bersyukur saat sakit. Bersyukur saat miskin. Bersyukur saat diuji. Bersyukur ketika belum berhasil. Ketika belum merdeka, ketika belum kaya, begitu mudahnya kita bersyukur. Gotong royong, menyumbang harta yang sedikit itu, beridabah tanpa pesta. Sekolah di mushola tanpa takut biaya. Mengajar ngaji tanpa gaji. Nikmat dan bisa bersyukur atas keterbatasan. Bisa merayakan kemerdekaan dengan urunan. Bukan dengan menunggu anggaran. Merayakan kemerdekaan dengan doa, bukan dengan berpesta sampai lupa yang memberi kemerdekaan. Saat belum panen, masjid penuh. Makan tenang walau hanya dengan sayur kangkung pinggir galengan. Tapi saat musim tanam atau saat panen, sibuk sampai tak sempat angkat tangan. Lupa rutinan. Pun juga. Saat pesta kemerdekaan, acara doa hanya sejam. Tapi pesta berhari-hari. Puncaknya pun, harus dilakukan untuk kepuasan. Memuaskan badan dan nuruti kemauan kekuasaan. Bukan kemauan jiwa. Saat jaya, jadwal ke mana mana. Sampai tak pernah dengar suara toa di sebelah rumah. Ketika diajak kenduri, jawabnya sibuk. Saat diajak jamaah, jawabnya meting. Dan pengamen di bus kota pun bilang, dhuhur sibuk kerja, ashar di perjalanan, Maghrib kecapekan, isya ketiduran, subuh kesiangan. Dan hebatnya sang pengamen itu, dia menutupnya dengan kata, ampuni kami, ya Alloh….dan ketika menutup lagu itu lalu pengamen keliling bawa plastik bekas kantong permen, para penumpang pun tidur. Atau pura-pura tidur. Seperti pura-puranya para penguasa yang pura-pura mengabdi demi kemerdekaan, tapi dengan sadar, dan sengaja, mereka menjajah rakyatnya. Rakyat yang tertidur kesingan karena habis mendapat makan siang gratis…. ailofyu Indonesia… watyulof me?

