Pojokkiri.com

Musim Anakan Cendet dan Ramainya Pasar Burung Lamongan

Ni

Anakan burung cendet yang dimasukkan dalam besek yang dijual antara Rp 150 ribu, hingga Rp 175 ribu perekor.(Pojok Kiri/Zainul Lutfi)

Lamongan, Pojok Kiri.com-Musim hujan tak hanya membawa kesuburan bagi tanah-tanah pertanian di Indonesia, tetapi juga menjadi penanda datangnya musim bertelur bagi burung cendet.

Dari November hingga Maret, curah hujan yang meningkat memicu pertumbuhan populasi serangga.sumber makanan utama cendet sekaligus menjadi pemicu alami bagi cendet untuk mulai berkembang biak.

Di berbagai daerah, periode puncak anakan cendet biasanya jatuh pada rentang September hingga November. Meski bervariasi menurut wilayah, musim inilah yang paling sering menjadi waktu para pedagang dan penghobi burung menantikan hadirnya anakan-anakan segar dari alam.

Fenomena ini juga terasa di Pasar Burung Lamongan, salah satu pasar burung terbesar di Kota Soto. Pada Minggu pagi, 22 November 2025, suasana pasar terlihat lebih ramai dari biasanya. Di antara deretan kios di Jalan Kusuma Bangsa, sejumlah pedagang memajang anakan burung cendet di besek-besek anyaman bambu, memenuhi sudut-sudut lapak mereka.

Tiga besek berisi cendet muda langsung mencuri perhatian ketika seorang pedagang, Sahuri, menyapa dari depan pintu masuk pasar.

“Bos, iki onok anakan cendet Ponorogo ora tuku tah? Murah iki, muk satus pitung puluh lima ewu,” serunya bersemangat.

Pojok Kiri, yang sedang meliput suasana pasar, menghampiri lapak Sahuri. Proses tawar-menawar terjadi, dan akhirnya harga disepakati di angka Rp150 ribu per ekor.

Sebelum transaksi selesai, muncul pertanyaan yang sering dilontarkan pembeli dari mana asal anakan cendet tersebut?

Sahuri tersenyum, lalu menjelaskan dengan antusias bahwa burung-burung itu ia peroleh dari pemikat burung di Ponorogo.

“Kita biasanya beli via telepon. Kalau harga sudah cocok, uang langsung ditransfer ke rekening pemikat. Setelah itu burung dikirim lewat bus AKDP dan turun di pertigaan Telon Sumlaran. Baru kita ambil dan bawa ke pasar,” tuturnya.

Rantai distribusi sederhana namun efektif ini menjadi nadi bagi keberlangsungan perdagangan burung-burung tangkapan alam yang masih diminati masyarakat.

Cendet Trah Unggulan: Bojonegoro dan Madura

Ketika ditanya mengenai daerah penghasil cendet berkualitas, Sahuri tanpa ragu menyebut dua nama Bojonegoro dan Madura. “Cendet dari dua daerah itu biasanya jenis gondrong atau kepala hitam. Konsumen paling suka yang model begini,” tambahnya sambil menunjukkan salah satu burung yang tampak lebih gagah dibanding lainnya.

Percakapan pun mengalir hingga hampir setengah jam. Setelah pembayaran diselesaikan, satu ekor anakan cendet berpindah tangan, meninggalkan cerita tentang musim hujan, pemikat burung, hingga geliat ekonomi kecil di balik Pasar Burung Lamongan.

Dan dari perjumpaan singkat dengan Sahuri itulah, tulisan feature ini lahir sebuah potret sederhana tentang hubungan alam, manusia, dan hidup yang terus berputar di pasar burung tradisional.(lut)