Pojokkiri.com

Perjalanan ke Batu, Melintasi Jalur Cangar Pasca Longsor yang Menewaskan 10 Orang Kengerian Longsor Itu Masih Terasa…

Jalur Cangar di kawasan monyet-monyet sebelum TKP longsor yang memiliki ketinggian 1.267,8 meter DPL

Pada Sabtu lalu (10/5) siang, wartawan Pojokkiri.com M. Makrup bersama keluarga mengendarai Agya 1.000 cc menuju ke Batu melalui jalur Cangar. Mereka tentu saja melintasi jalur tempat kejadian perkara (TKP) longsor pada 3 April 2025 yang menewaskan 10 korban jiwa. Bagaimana kondisi jalur tersebut saat ini? Berikut ceritanya.

Oleh: Mochamad Makrup*

Bila bepergian ke Batu biasanya kami melalui jalan tol Sidoarjo-Pandaan- Singosari. Bila perjalanan lancar, Sidoarjo-pintu tol Singosari hanya 1,5 jam, Singosari ke Batu melintasi Karangploso 30 menit sampai 45 menit. Jadi total waktu perjalanan Sidoarjo ke Batu melalui tol sekitar 2 jam.

Tanpa ada perencanaan, Sabtu itu kok kami mendadak harus melewati jalur Cangar. Iya…Cangar. Terdengar seram. Betapa tidak. Jalur penghubung Kabupaten Mojokerto menuju Kota Batu itu baru saja terjadi longsor dan menewaskan 10 korban jiwa yang tertimbun tanah di dalam dua mobil, station dan pick up. Tepatnya pada Kamis, 3 April 2025, sekitar pukul 11.27. Jalur itu pun kemudian ditutup.

Cukup lama nama Cangar terlupa. Mendadak nama muncul kembali pada ingatan kami ketika ada tragedi pada 3 April. Cangar alias Sangar jalurnya.

Memasuki TKP longsor yang selintas terlihat gundul di sisi kanan jalur

Saya dan keluarga memang suka berlibur ke Batu. Jalur Cangar sebelumnya sudah biasa kami lewati. Sebelum jalan tol Sidoarjo – Malang ada (Jalan Tol Pandaan-Malang beroperasi sejak April 2020. Pembangunan jalan tol sendiri dimulai sejak 2017 dan diresmikan Presiden Joko Widodo pada Mei 2019), kami kerap ke Batu dan melewati jalur naik turun itu. Dulu, kami bisa empat kali sebulan. Jadi seminggu sekali ke Batu melintasi jalur Cangar. Tapi itu hanya berlangsung 6 bulan, selanjutnya bosan dan sebulan dua kali dan kini sebulan sekali serta terkadang dua bulan sekali.

Valiant, anak mbarep ketika baru bisa mengemudi mobil sudah mencoba jalur Cangar. Tapi saat itu mobil Nissan Xtrail, 2.400 cc. Saya sendiri sebelumnya belum pernah masuk jalur Cangar dan kali pertama masuk jalur itu sekitar pukul 18.00 dengan Xtrail. Bisa pembaca bayangkan suasana sekitarnya. Gelap gulita.

Saat itu, saya berniat balik, tapi tidak jadi. Bismilah, jalan terus. Sampai istri bilang, seperti melintasi perut bumi. Jalur gelap dan penerangan hanya mengandalkan lampu depan kendaraan—menerangi jalan di depan kami. Saat itu, ketika melintasi jalur itu maka ketegangan terjadi 45 sampai 1 jam.

Sabtu itu, saya terpaksa melewati Cangar karena sebelumnya harus bertemu teman asal Jombang di kawasan Pasar Krian sekitar pukul 13.30. Saya dan keluarga mau ke Batu, jadi sekalian usai urusan Krian, kami lanjut ke Batu.

Teman berangkat dari Jombang pukul 12.22. Kami baru berangkat ke Krian pukul 13.00 yakni melalui Sukodono. Sekitar pukul 13.55, teman sudah tiba di Krian. Pukul 14.00, kami pun bertemu. Pertemuan hanya 15 menit dan teman pamit balik ke Jombang. Kami pun meluncur ke Batu.

Semula saya ingin balik ke Waru dan masuk tol menuju tol Malang. Tapi Valiant menolaknya. “Lebih baik ke Batu melewati jalur Cangar, pa. Daripada harus balik ke Waru, kan pemborosan,” ujarnya. Saya menolaknya karena usai kejadian pada 3 April. Anak saya itu pun memaksa. Istri ternyata setuju lewat Cangar. Saya pun akhirnya setuju.

Dari Krian, kami meluncur ke Mojasari. Namun menjelang tiba di Pacet, mendung dan akhirnya gerimis rintik-rintik. Saya sempat was-was. Hadew mengapa harus hujan. Tapi saya coba tenang.

Sebelum memasuki jalur Cangar di kawasan bundaran Pacet terpasang papan elektronik berisi pengumuman. “Jalur Cangar Dibuka dan Ditutup Pukul 18.00.” Tapi bila kondisi hujan deras, bisa jadi jalur akan ditutup tidak menunggu pukul 18.00.

Tak lama kemudian, mobil Agya yang dikemudikan anak lanang tiba di jalur Cangar. Menanjak dan menanjak lagi. Mobil kami automatic transmition dan transmisi harus di posisi terendah yakni 2. Transmisi matic Agya, 2,3 dan D serta R. D itu seperti gigi 4.

Awalnya laju mobil ketika menanjak terengah-engah. Itu karena, di depan mobil terkadang ada kendala motor atau mobil yang melaju lamban. Sehingga mobil pun tidak ada jarak untuk gaspol kecepatan. Kecepatan mobil kami ikut melamban dan terengah-engah. Mobil terus melaju menanjak dan belok dan menanjak lagi.

Dalam perjalanan, di depan mobil kami ada Avanza yang melaju lamban. Ini menjadikan mobil kami terganggu kecepatannya. Tidak bisa los gas. Mobilikut terbawa kecepatan rendah Avanza. Mau mendahuluinya belum bisa. Jalan sempit. Mobil kami harus terus melaju.

Ternyata, kami pun bisa mendahului Avanza dan menanjak lagi bertemu Innova. Innova juga sepertinya melaju lamban. Bila bisa mendahului, kami segera lakukan. Tapi faktanya tidak bisa. Mobil kami pun mengikuti laju Innova, lamban.

Saat perjalanan itu, saya melihat banyak relawan-relawan berdiri di tepi jalan-jalan curam atau pojok tikungan Cangar. Mereka ini siap membantu pengendara bila ada kendala dengan mobil ketika menanjak atau turun tajam. Kabut pun mulai turun.

Anda ingin tahu berapa ketinggian kawasan Cangar? Saat melintasi jalur yang biasanya terlihat banyaj monyet di tepi jalan, ketinggiannya 1.267,8 meter DPL (Di bawah Permukaan Laut). Tapi saat perjalanan, sekitar pukul 16.00, monyet-monyet tidak terlihat. Kawasan ini sebelum TKP longsor.

Mobil kami memasuki TKP longsor. Awalnya, ketika melintas turun si kiri jalan ada tenda. Valiant bilang, “ Itu itu tenda sepertinya tenda petugas ketika evakuasi korban longsor, pa.” Dugaan anak saya benar. Tak lama kemudian, mobil kami melintasi jalur TKP (Tempat Kejadian Perkara) longsor. Saya melihat tebing di sisi kanan jalur sudah dipagari kayu berlapis-lapis. Tatanannya berundak-undak. Pagar ini untuk menahan agar tanah tidak longsor.

Kengerian longsor masih terasa

Pepohonan di tebing yang dipagari kayu berundak tidak ada. Pohon itu diduga habis terbawa longsor ke bawah saat kejadian. Di sisi kiri jalur longsor itu memang jurang. Jadi saat kejadian, tanah longsor bergerak cepat ke bawah menuju jalan raya dan menghantam mobil-mobil yang melintasi jalur itu. Mobil pun terdorong masuk jurang dan merenggut 10 korban jiwa. Semoga amal ibadah para korban diterima Allah SWT. Jurang di seberang tebing longsor memang terlihat dalam.

Ketika kami melintasi jalur TKP ini, suasana agak beda. Perasaan terasa gimana. Kengerian longsor sepertinya masih terasa. Mobil kami terus melaju turun dan berkelok ke kiri melewati jurang di seberang TKP. Mobil menderu sudah biasa. Yang bikin kesal ada mobil di depan melaju lamban dan tidak bisa memberikan ruang mobil melaju kencang naik.

Suatu saat di depan ada Innova yang mau nanjak. Jarak Innova dengan mobil kami terlalu dekat. Terpaksa kami hentikan mobil dan mundur dengan lampu hazard menyala. Untung di belakang tidak ada mobil. Ketika Innova sudah naik dan berkelok ke kiri, mobil kami lanjut gaspol naik dan sukses tanpa kesulitan.

Keluar jalur Cangar memasuki Kota Batu.

Alhamdulilah, sekitar 45 menit, mobil akhirnya keluar dari jalur Cangar. Selama Datang di Kota Batu. Ketinggian daratan di kawasan ini 1.521,2 meter DPL. Ada perasaan legah. Terus terang meski sebelumnya sudah biasa melintasi Cangar tapi saat itu perasaan was-was masih ada. “Co, kita pulang nanti lewat tol saja,” kata saya kepada anak saya. Valiant pun mengiyakan. Meski demikian, mobil lancar menaklukan turunan menuju ke arah Selecta dan ke Sumbergondo. Sekitar pukul 16.30 atau 3 jam perjalanan, kami selamat tiba di Sumbergondo, Batu–yang memiliki ketinggian 1.050 meter DPL. Kami relaks ngopi sebentar usai menempuh sedikit ketegangan dalam perjalanan.

*Penulis adalah Wartawan Utama, Dewan Pers