Pojokkiri.com

“Skuad Bintang Bukan Jaminan: Mengupas Titik Lemah Persela yang Bikin Gagal Promosi”

Oleh: Zainul Lutfi, Wartawan Harian Pagi Pojok Kiri, Biro Lamongan

Persela Lamongan dipastikan harus mengubur mimpi kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia pada musim ini. Menutup kompetisi Liga 2 musim 2025/2026 di peringkat keenam klasemen akhir, manajemen Laskar Joko Tingkir harus bergerak cepat melakukan evaluasi total bila tidak ingin gagal kembali.

Menurut penulis beberapa faktor krusial yang dianggap sebagai penghambat laju tim menuju Liga 1. Salah satu poin utama adalah masalah stabilitas tim yang terganggu akibat adanya pergantian pelatih dan manajemen di tengah musim (paruh musim). Perubahan nahkoda ini dinilai memengaruhi ritme permainan dan adaptasi strategi para pemain.

Selain faktor teknis, Persela juga dihadapkan pada tantangan eksternal yang berat. Hukuman pertandingan tanpa penonton di Tuban Sport Center akibat insiden kerusuhan sebelumnya diakui sangat memengaruhi mental bertanding pemain. Kehilangan dukungan langsung dari suporter setia, LA Mania, membuat atmosfer laga kandang terasa kurang maksimal.

Secara komposisi skuad, adanya celah di sektor pertahanan dan penjaga gawang. Kebutuhan akan pemain baru di posisi tersebut menjadi prioritas utama dalam bursa transfer mendatang agar strategi pelatih dapat berjalan lebih efektif.

Menurut penulis management harus melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari komposisi pemain, persiapan tim, hingga penentuan staf kepelatihan untuk musim depan. Ini semua untuk tidak mengulangi kegagalan yang sama.

Sejarah mencatat Persela memang melewati perjalanan berliku beberapa tahun terakhir, termasuk saat dirugikan oleh penghentian kompetisi pada musim 2022/2023.

Dengan evaluasi mendalam ini, publik Lamongan berharap Laskar Joko Tingkir bisa bangkit dan kembali ke tempat yang seharusnya di Liga 1. Penulis haqul yakin Persela pasti bisa.(*)