
Mojokerto, Pojok Kiri — Aula Makam Umum Dusun Banjarsari, Kedunglengkong, Dlanggu, Mojokerto, kembali dipadati warga. Minggu, 2 Agustus 2026, Paguyuban Rutinan Khotmil Qur’an Makam Umum Banjarsari menggelar agenda bulanan yang sudah menginjak periode ke-26.

Tepat pukul 12.00 WIB usai salat Dhuhur, rangkaian acara dimulai. Ada pembacaan Al-Qur’an, doa bersama, hingga kenduri. Lokasi kegiatan sengaja ditetapkan di Makam Eyang Tumenggung Soekarto Widjoyono atau Mbah Sentono. Tujuannya untuk menghormati para leluhur sekaligus mempererat jalinan persaudaraan antarwarga.
Acara dibuka dengan pembacaan Surat Al-Ashr ayat 1 sampai 3. Ayat itu kembali menjadi pengingat bagi para hadirin.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal kebajikan dan saling berwasiat untuk kebenaran dan saling berwasiat untuk kesabaran”.
Jangan Biarkan Waktu Berlalu Sia-sia
Penanggung Jawab kegiatan, Advokat Hadi Purwanto, S.T., S.H., M.H., mengatakan pemilihan ayat tersebut memiliki alasan kuat. Menurutnya, kandungan Surat Al-Ashr amat sesuai dengan kehidupan masyarakat modern yang serba tergesa dan sibuk.
“Masa terus melaju dan tidak bisa diulang. Apabila kita hanya disibukkan urusan keduniawian tanpa dibarengi keimanan dan perbuatan baik, maka kita termasuk golongan yang merugi,” tutur Hadi.
Ia kemudian menguraikan empat kunci dalam ayat tersebut. Pertama iman, kedua amal kebajikan, ketiga saling mewasiatkan dalam kebenaran, dan keempat saling mewasiatkan dalam kesabaran.
“Keempat hal ini wajib kita genggam erat agar hidup tidak hampa dan percuma,” ucapnya.
Menghormati Leluhur dan Pahlawan Termasuk Perbuatan Baik
Lebih jauh, Hadi menyoroti urgensi menghargai jasa orang tua dan para pejuang bangsa. Baginya, kegiatan di area pemakaman bukan sekadar seremoni rutin, melainkan juga ruang untuk bercermin dan meneladani perjuangan mereka.
“Kita berkumpul di sini bukan semata untuk berdoa. Namun juga untuk meneladani. Meneladani pengorbanan orang tua yang sudah mengasuh dan membimbing kita. Meneladani dedikasi para pahlawan yang telah berjuang untuk republik ini. Bila kita melupakan jasa mereka, berarti kita termasuk pihak yang merugi,” tegas Hadi.
Ia menilai, mendoakan dan menghormati para pendahulu merupakan salah satu wujud amal kebajikan yang ganjarannya tidak terputus.
“Di era sekarang tidak sedikit orang yang terlalu larut dengan kesibukan pribadi hingga abai bersilaturahmi dan abai mendoakan leluhur. Padahal salah satu sumber keberkahan hidup berasal dari menghargai mereka yang telah mendahului kita,” imbuhnya.
Hadi juga mengajak peserta untuk melakukan evaluasi diri. Apakah aktivitas sehari-hari sudah diniatkan sebagai ibadah dan amal yang bermanfaat.
“Kita kerap merasa sibuk, namun pertanyaannya, apakah kesibukan itu mendatangkan keberkahan. Apakah pekerjaan kita sudah diniatkan sebagai ibadah dan amal kebaikan. Ayat ini mengajak kita untuk berkaca,” jelasnya.
Lima Hikmah dari Piala Dunia Versi Ustaz Mukid
Penasihat kegiatan, Ustaz Mukid, turut menyampaikan ceramah. Ia mengajak jamaah untuk berlomba dalam kebaikan dan mengejar ridho Allah.
“Kita hadir di majelis ini dengan satu tujuan, mencari ridho Allah. Jangan sampai semangat kita kalah dengan euforia Piala Dunia. Ketika Piala Dunia tiba, orang rela begadang tanpa mengenal waktu,” ujarnya.
Ustaz Mukid lalu mengaitkan ajang Piala Dunia dengan kehidupan seorang muslim. Ada lima pelajaran yang bisa dipetik. Pertama, tim yang bertanding pasti memiliki mental pemenang. Kedua, gelar juara tidak diraih dalam sekejap, butuh latihan bertahun-tahun dan kedisiplinan tinggi. Begitu pula seorang muslim, harus disiplin dalam salat, membaca Al-Qur’an, dan berzikir.
Ketiga, pemain hebat tidak bisa menang seorang diri. Diperlukan kerja sama tim. Sama halnya dengan kita, harus saling bahu-membahu dalam kebaikan dan ketakwaan. “Doa kita sangat dinantikan oleh para penghuni kubur,” katanya.
Keempat, ada kemenangan ada kekalahan. Dalam kehidupan, Allah juga menguji kita dengan rasa cemas dan khawatir. Kelima, laga usai ketika wasit meniup peluit panjang. Dalam hidup, kita juga memiliki batas akhir. “Setiap yang bernyawa pasti akan menjumpai kematian. Bekal yang kita bawa kelak hanyalah amal ibadah,” paparnya.
Jaga Amanah dan Jangan Lupakan Guru
Penasihat Jamaah, K.H. Hasan Mathori, berpesan agar kegiatan ini dijalani dengan sabar dan tulus. Ia mengingatkan bahwa semua yang ada di dunia ini merupakan titipan.
“Kita hanya diberi kepercayaan berupa harta oleh Allah. Jika kita taat pada perintah-Nya, nikmat akan dilipatgandakan. Ketika tiba waktunya menunaikan zakat maal, tunaikanlah. InsyaAllah rezeki akan diluaskan. Jika tidak, bisa jadi datang cobaan berupa sakit atau lainnya,” jelas Kiai Hasan.
Di penutup, ia menekankan pentingnya menghargai jasa guru. “Orang tua adalah pendidik pertama kita. Jasa mereka sangat besar. Begitu pula para pahlawan. Hargailah jasa mereka agar hidup kita diberkahi,” pungkasnya.
Agenda rutinan ini telah berjalan selama 26 bulan berturut-turut tanpa terputus. Panitia berharap, kegiatan ini dapat terus berlangsung secara konsisten dan menjadi teladan bagi daerah lain untuk meniru. (Jay/Adv)

