
Lamongan, Pojokkiri.com-Kebijakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar para pelajar di sepanjang Jalan Veteran, Kabupaten Lamongan, berdampak signifikan bagi para pelaku UMKM setempat. Salah satunya dirasakan oleh Gunarto alias Cak Gundul, penerus kuliner legendaris Nasi Goreng Mawut di depan SMN 2 Lamongan.
Usaha kuliner yang telah berdiri sejak tahun 2009 ini kini mengalami penurunan omzet akibat hilangnya konsumen dari kalangan siswa sekolah.
Berjualan Sejak 2009 dan Buka Lebih Awal
Nasi Goreng Mawut ini tergolong unik dan legendaris di Kabupaten Lamongan. Berbeda dengan pedagang nasi goreng pada umumnya yang baru menggelar lapak di sore hari, kuliner ini justru sudah melayani pembeli sejak pukul 10.30 WIB.
Usaha ini pertama kali dirintis oleh Pak Ridwan dan kini diteruskan oleh anaknya, Gunarto, sebagai generasi kedua.
“Saya generasi kedua menjual nasi goreng mawut menggantikan ayah saya, Pak Ridwan,” kata Gunarto saat ditemui di lapaknya, Selasa (30/6/2026).
Warga Sugiwaras, Kecamatan Deket ini mengungkapkan bahwa selain pelajar, mayoritas pelanggan setianya adalah para Aparatur Sipil Negara (ASN). Hal ini dikarenakan lokasi Jalan Veteran yang strategis dan dikelilingi oleh berbagai kantor dinas Pemkab Lamongan.
Dampak Program MBG Bagi Pedagang Kecil
Gunarto menceritakan suka dukanya dalam mempertahankan bisnis keluarga ini. Dalam satu tahun terakhir, omzet penjualannya terasa sepi. Penyebab utamanya adalah implementasi program MBG di sekolah-sekolah sekitar.
”Biasanya, pelajar sekolah di sepanjang Jalan Veteran kalau jam istirahat makan di sini. Setelah ada program MBG, siswa tidak ada yang makan di sini lagi,” keluhnya.
Kondisi sepi pembeli ini rupanya tidak hanya mencekik usaha nasi goreng miliknya. Gunarto menambahkan, para pedagang keliling seperti penjual cilok yang biasa mangkal di depan sekolah juga mengalami nasib serupa karena para murid sudah mendapatkan fasilitas makan gratis dari sekolah.
Sisi Positif Saat Masa Libur MBG
Meski kehilangan pasar dari sektor pelajar, Gunarto mengaku ada berkah tersendiri saat program MBG sedang memasuki masa libur. Berhentinya pasokan massal untuk program tersebut memicu penurunan harga komoditas pangan di pasar.
“Alhamdulillah dengan liburnya MBG, kebutuhan pokok turun. Sehingga bahan baku nasi goreng seperti sawi, kubis, telur, dan minyak goreng juga ikut turun,” jelasnya.
Penurunan harga bahan baku ini memberikan sedikit napas lega bagi pedagang kecil seperti dirinya karena mampu meningkatkan daya beli masyarakat umum.(lut)
Editor: Zainul Lutfi

