
Surabaya Pojokkiri.com – Suasana tenang di kawasan Sido Kapasan Gang X, Kelurahan Sidodadi, Surabaya mendadak berubah menjadi kepanikan. Warga dikejutkan dengan munculnya gejala serupa pada sejumlah orang yang diduga mengalami keracunan makanan secara massal pada Sabtu (4/4).
Peristiwa ini berawal dari konsumsi nasi kotak yang dibagikan dalam acara selamatan tujuh harian salah satu warga pada Selasa (31/3). Beberapa jam setelahnya, warga mulai merasakan keluhan kesehatan yang muncul secara bertahap sejak dini hari.
Gejala yang dirasakan cukup mengganggu, mulai dari mual, muntah, hingga diare akut yang menyebabkan tubuh melemah.
Salah satu warga terdampak, Muhammad Imron Rosidi, menuturkan bahwa dirinya baru merasakan gejala sekitar lima jam setelah menyantap makanan tersebut. Menu yang dikonsumsinya berupa nasi putih, ayam bumbu merah, dan mie.
Ia mengisahkan, setelah makan pada malam hari, kondisi tubuhnya tiba-tiba menurun drastis menjelang dini hari.
“Sekitar pukul satu dini hari, saya mulai mengalami diare hebat yang berlangsung hingga pagi. Disertai rasa mual dan demam tinggi yang mencapai sekitar 40 derajat,” ujarnya saat ditemui.
Kondisinya sempat memprihatinkan hingga harus mendapatkan penanganan medis berupa infus dan obat-obatan untuk mengatasi dehidrasi akibat diare berkepanjangan.
Menariknya, ia menyebut bahwa makanan yang dikonsumsi langsung di lokasi acara tidak menimbulkan masalah. Namun, makanan yang dibawa pulang dalam kemasan kotak justru diduga menjadi pemicu gangguan kesehatan tersebut.
Setelah mendapatkan perawatan, kondisinya kini mulai membaik, meski masih merasakan gejala demam ringan.
Kepedulian dan respons cepat tenaga kesehatan setempat menjadi faktor penting dalam penanganan awal kasus ini. Warga mendapatkan bantuan dari petugas Puskesmas Pembantu (Pustu) Simolawang yang masih aktif, serta seorang perawat yang tinggal di lingkungan tersebut.
Arifin, salah satu warga, menyampaikan bahwa anaknya sempat mengalami kondisi lemas akibat diare akut. Namun, berkat penanganan cepat, kondisinya berangsur membaik.
Ia menjelaskan bahwa begitu kejadian terdeteksi, tenaga kesehatan langsung memberikan penanganan berupa infus kepada warga yang terdampak untuk mencegah kondisi memburuk.
Upaya tersebut dinilai efektif dalam menekan tingkat keparahan, meskipun beberapa warga tetap harus mendapatkan perawatan lanjutan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sekitar 15 orang dari berbagai kelompok usia, mulai dari remaja hingga dewasa, terdampak dalam kejadian ini.
Sebagian besar korban telah menjalani perawatan jalan, sementara beberapa lainnya masih membutuhkan penanganan intensif di rumah sakit. Tercatat, tiga anak hingga kini masih menjalani perawatan medis karena kondisi yang memerlukan pengawasan lebih lanjut.
Hingga saat ini, sejumlah warga masih menjalani pemulihan baik secara mandiri di rumah maupun melalui layanan kesehatan terdekat. Tim Gerak Cepat dari Dinas Kesehatan Surabaya bersama BPBD Kota Surabaya juga telah turun tangan melakukan pemeriksaan dan penanganan di lokasi.
Petugas BPBD Surabaya, Tito Sumarsono, mengungkapkan bahwa laporan awal diterima melalui layanan darurat Command Center 112 pada pukul 10.00 WIB.
Ia menjelaskan bahwa dari total korban yang terdata, sebagian besar telah diperbolehkan menjalani rawat jalan, sementara beberapa lainnya masih dalam perawatan di rumah sakit.
Saat ini, tim gabungan masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti dari dugaan keracunan massal tersebut, termasuk menelusuri kemungkinan faktor kontaminasi makanan.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat akan pentingnya menjaga keamanan pangan, terutama dalam kegiatan sosial yang melibatkan konsumsi makanan bersama.
Kehati-hatian dalam pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan menjadi faktor krusial untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Di tengah situasi ini, solidaritas warga dan respons cepat tenaga kesehatan menjadi bukti bahwa kepedulian bersama mampu meredam dampak yang lebih luas (sul).

