Pojokkiri.com

Catatan Akhir Kepemimpinan TDA Kediri 2023–2026: Di Balik Retorika Kebersamaan dan Ujian Realitas UMKM

KEDIRI — Purnatugasnya Achmad Fikri dari kursi Ketua Komunitas Tangan Di Atas (TDA) Kediri periode 2023–2026 menandai berakhirnya satu babak konsolidasi internal. Namun, di balik narasi perpisahan yang hangat dan ajakan merawat mimpi, kepemimpinan tiga tahun terakhir ini menyisakan pekerjaan rumah yang mendasar bagi keberlanjutan ekosistem wirausaha lokal di Kediri Raya.

Dalam pernyataan resminya, Fikri menekankan pentingnya asas kolaborasi dan kerendahan hati selama memimpin. “Perjalanan ini bukan tentang saya, melainkan tentang kebersamaan. Setiap capaian yang diraih merupakan hasil kolaborasi seluruh keluarga besar TDA Kediri yang telah meluangkan tenaga, waktu, pemikiran, dan doa,” kata Fikri.

Secara kasat mata, capaian yang paling disorot adalah hadirnya TDA FUN—sebuah ruang informal yang dirancang untuk mempererat jejaring antaranggota. Namun, dari kacamata kritis, ketergantungan pada program-program berbasis Guyub dan ruang kumpul semacam ini menimbulkan pertanyaan: sejauh mana wadah tersebut mampu menyentuh substansi problem bisnis para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)? Di tengah gempuran ketidakpastian ekonomi, efisiensi rantai pasok, dan digitalisasi yang makin agresif, pendekatan relasional semata berisiko mengerdilkan fungsi organisasi pengusaha hanya menjadi ajang networking tanpa daya dorong operasional yang konkret.

Fikri sendiri tak menampik adanya keterbatasan selama masa kepemimpinannya. Ia menyampaikan evaluasi terbuka atas dinamika yang terjadi.

“Saya memohon maaf atas segala kekhilafan dan keputusan yang mungkin belum memenuhi harapan semua pihak. Semoga niat baik yang telah kita bangun bersama menjadi amal kebaikan, sementara segala kekurangan menjadi bahan evaluasi untuk terus berkembang,” ujarnya.

Sikap reflektif ini penting, mengingat kepengurusan berikutnya tidak hanya dituntut untuk merawat semangat, tetapi juga melakukan pembenahan terukur. Tantangan TDA Kediri ke depan bukan lagi sekadar menambah jumlah anggota atau menjaga ritme kumpul, melainkan bagaimana mentransformasi ikatan emosional anggota menjadi kapasitas bisnis nyata yang adaptif dan berdaya saing tinggi.

Masa depan organisasi kini bergantung pada bagaimana kepengurusan baru menerjemahkan pesan penutup Fikri secara taktis.

“Perjalanan TDA tidak berhenti sampai di sini. Saya percaya kepengurusan berikutnya akan membawa TDA Kediri semakin berkembang. Mari terus melangkah bersama, menjaga semangat berbagi, belajar, dan bertumbuh menuju level yang lebih baik,” pungkasnya.

Estafet kepemimpinan telah diserahkan. Tugas pengurus baru kini adalah membuktikan bahwa TDA Kediri mampu melangkah melampaui seremoni dan kehangatan komunitas, menjawab persoalan nyata yang dihadapi para wirausahawan di lapangan. (ade/wan)