KEDIRI, pojokkiri.com — Sejak matahari belum tinggi, area parkir Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, sudah berubah menjadi lautan warga. Jumat pagi, 28 Agustus 2026, antrean mengular. Mayoritas yang datang adalah ibu-ibu rumah tangga yang berburu satu hal: sembako murah.
Gelaran Pasar Murah Pemerintah Provinsi Jawa Timur langsung diserbu warga. Beras dan minyak goreng menjadi dua komoditas yang paling cepat menyedot perhatian.
Beras SPHP kemasan 5 kilogram dijual hanya Rp55 ribu. Sementara minyak goreng dilepas dengan harga Rp15 ribu per liter. Selisih harga itu cukup untuk membuat warga rela datang lebih pagi dan berdiri dalam antrean.
“Lumayan banget beda harganya. Beras sama minyaknya murah, hematnya bisa dipakai buat beli kebutuhan yang lain,” kata salah seorang warga sambil menunggu giliran mendapatkan bahan pokok.
Tak hanya beras dan minyak, warga juga memburu telur, bawang, hingga cabai rawit. Di tengah tingginya kebutuhan rumah tangga, pasar murah seolah menjadi ruang bernapas bagi kantong warga.
Serbuan warga sejak pagi menunjukkan satu hal: harga kebutuhan pokok masih menjadi persoalan serius bagi rumah tangga. Ketika harga dipangkas, warga langsung bergerak.
Kepala UPT Industri Logam dan Perekayasaan Sidoarjo, Elok Syafirda, mengatakan tingginya antusiasme warga Mojoroto menjadi dorongan untuk terus menggelar kegiatan serupa. Setelah sebelumnya menyasar wilayah Kabupaten Kediri, pasar murah kali ini digelar di Kota Kediri dengan harapan bisa langsung membantu masyarakat menekan beban belanja sehari-hari.
“Kami melihat antusiasme masyarakat sangat tinggi. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan kegiatan seperti ini agar masyarakat bisa mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau,” ujar Elok.
Camat Mojoroto, Abdurrahman, yang meninjau langsung lokasi kegiatan, juga mengapresiasi membludaknya warga. “Kami dari Kecamatan Mojoroto sangat mengapresiasi. Ini tentu sangat membantu masyarakat Kota Kediri, khususnya warga Kecamatan Pesantren, Kota, maupun Mojoroto sendiri karena kegiatannya dipusatkan di sini,” ujarnya.
Namun pasar murah itu bukan hanya soal sembako. Di tengah antrean warga yang memburu beras dan minyak goreng, sejumlah stan UMKM lokal ikut meramaikan kawasan parkir Kecamatan Mojoroto. Jajanan khas, jamu tradisional hingga kerajinan tenun ikat dipajang dan ditawarkan kepada pengunjung.
Suasana yang semula dipenuhi warga dengan daftar belanja kebutuhan dapur, perlahan berubah menjadi pusat keramaian ekonomi rakyat.
Bagi para emak-emak, pasar murah hari itu bukan sekadar tempat berburu diskon. Setiap selisih harga berarti penghematan. Setiap liter minyak dan lima kilogram beras yang dibeli lebih murah, berarti ada uang yang bisa diselamatkan untuk kebutuhan lain.
Dan Jumat pagi itu, di tengah antrean panjang di Kecamatan Mojoroto, satu pesan tampak jelas: ketika harga sembako diturunkan, warga tak perlu dipanggil dua kali. Mereka langsung menyerbu. (ade/wan)

