Pojokkiri.com

Di Balik Kemeriahan Gerak Jalan HUT RI Sampang, Anggaran Minim hingga Cermin Kesenjangan Pendidikan

Pojokkiri.com, – SAMPANG — Ajang tahunan Lomba Gerak Jalan memperingati HUT ke-81 RI di Kabupaten Sampang resmi dibuka dari depan Pendopo Trunojoyo, Selasa (11/8/2026). Sebanyak 186 regu SD/MI berbaris di hari pertama, disusul 188 regu tingkat SMP–SMA pada Rabu (12/8/2026).

Namun, di balik riuhnya derap langkah para pelajar dan seremonial pejabat, tersimpan sejumlah catatan kritis mengenai tata kelola serta ketimpangan di daerah Sampang.

Wakil Bupati Sampang, H. Akhmad Mahfudz, menyampaikan narasi manis bahwa gerak jalan ini adalah sarana memupuk persatuan dan meneruskan perjuangan pahlawan.

Disporabudpar Sampang menerapkan formula pemenang berdasar tiga zona, yaitu Kota Sampang, Pinggiran (Kecamatan), dan Pedesaan. Kadisporabudpar, H. Marnilem, mengklaim skema ini dibuat agar peserta desa tidak tergerus oleh sekolah kota.

Namun, kebijakan ini bak “pahlawan bertopeng”. Di satu sisi terkesan mengayomi, namun di sisi lain menjadi pengakuan terselubung Pemkab atas gagalnya pemerataan kualitas dan fasilitas pendidikan. Alih-alih membereskan jurang kesenjangan antara sekolah pusat kota dan pelosok, pemerintah daerah justru memilih “jalan pintas” dengan memisahkan kasta persaingan.

Catatan merah lainnya terlihat dari absennya kategori Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Masyarakat Umum. Marnilem berdalih, keputusan ini diambil lantaran keterbatasan anggaran Pemkab Sampang.

Hal ini memicu pertanyaan publik, mengapa event tahunan yang memupuk rasa nasionalisme warga harus selalu dikorbankan atas nama “anggaran cekak”? Minimnya alokasi dana membuat partisipasi masyarakat luas terkebiri, menjadikan perayaan kemerdekaan yang seharusnya milik rakyat kini bergeser serasa milik segelintir instansi sekolah saja.

Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, Wakil Bupati Sampang, H. Akhmad Mahfudz, menyampaikan narasi manis bahwa gerak jalan ini adalah sarana memupuk persatuan dan meneruskan perjuangan pahlawan.

Namun, pesan moral tersebut terancam sekadar menjadi retorika seremonial setiap tahun. Jika persatuan ingin benar-benar dipupuk, Pemkab Sampang seharusnya membuktikannya lewat alokasi anggaran yang memadai bagi masyarakat luas, serta pemerataan mutu pendidikan yang nyata, bukan sekadar membagi-bagi piala berdasarkan kasta wilayah, yang seolah menunjukkan perbedaan kwalitas maupun kuantitasnya. (F-R)