KEDIRI — Kota Kediri sedang berada di persimpangan. Teknologi berkembang cepat, sementara pemerintah dituntut berlari lebih kencang dari perubahan. Pertanyaannya sederhana: apakah Kediri hanya akan menjadi pengguna teknologi atau mampu menjadikannya mesin perubahan?
Pertanyaan itu mengemuka dalam Dinus Expo 2026 yang digelar Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Kediri, Sabtu, 8 Agustus 2026, di Lantai 1 Kediri Town Square. Talk show yang mengangkat tema arah pengembangan Kota Kediri di tengah kemajuan teknologi tersebut mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia pendidikan.
Wakil Wali Kota Kediri KH Qowimuddin Thoha alias Gus Qowim menegaskan pemerintah tak boleh sekadar menjadi penonton dalam perubahan digital. Menurut dia, teknologi harus diambil jika memberikan kemaslahatan bagi masyarakat. Ia menggunakan kaidah al-maslahatu haitsu ma kaanat sebagai pijakan.
“Apapun yang memberikan kemaslahatan dan kemanfaatan bagi umat, termasuk teknologi, maka itu harus kita ambil dan manfaatkan,” ujar Gus Qowim.
Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan pekerjaan rumah besar bagi pemerintah kota. Digitalisasi bukan semata-mata memasang aplikasi, membangun pusat data, atau memindahkan pelayanan ke layar telepon genggam.
Ukuran akhirnya adalah apakah teknologi benar-benar membuat pelayanan publik lebih cepat, transparan, mudah dan berpihak kepada warga.
Gus Qowim mengatakan era digital telah mengubah hubungan pemerintah dengan masyarakat. Cara kerja birokrasi, pola komunikasi hingga proses pembelajaran ikut bergeser.
Karena itu, Pemerintah Kota Kediri, kata dia, harus beradaptasi.Namun ada satu batas yang tak boleh dilanggar: modernisasi tidak boleh menghapus identitas. “Kita memanfaatkan teknologi sebaik-baiknya dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat, tetapi kita tidak boleh kehilangan jati diri,” katanya.
Ia mengutip kaidah al-muhafazhatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah: mempertahankan nilai lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.
Di titik inilah Rektor Udinus Prof. Dr. Pulung Nurtantio Andono membawa gagasan yang lebih konkret. Menurut dia, Kediri memiliki modal yang sering kali hanya diperlakukan sebagai sejarah. Sejak masa Kerajaan Kadiri, kota ini telah memiliki tradisi keilmuan. Modal tersebut, kata dia, semestinya tidak berhenti sebagai kebanggaan masa lalu. Kediri justru bisa menjadikannya fondasi untuk membangun ekosistem pendidikan dan teknologi.
Pulung menawarkan konsep living lab atau laboratorium hidup. Kota bukan sekadar latar tempat perguruan tinggi berdiri, melainkan ruang terbuka untuk menguji gagasan dan teknologi. “Teknologi hanyalah sebuah alat (tool), namun wadah penerapannya adalah Kota Kediri itu sendiri agar kota ini bisa tumbuh semakin hebat,” ujar Pulung.
Gagasan itu sekaligus menyodorkan tantangan kepada pemerintah daerah. Jika Kota Kediri benar-benar ingin menjadi kota berbasis teknologi, pemerintah tidak cukup hanya membeli perangkat dan membuat sistem digital.
Pemerintah harus membuka ruang bagi kampus, mahasiswa, pelaku usaha, dan masyarakat untuk ikut menciptakan solusi. Dengan kata lain, Kediri membutuhkan ekosistem inovasi, bukan sekadar etalase digital.
Mahasiswa Masuk ke Ruang Pemerintahan
Udinus bahkan menawarkan sumber daya manusianya. Mahasiswa semester lima ke atas yang telah dibekali teknologi dan keterampilan siap dilibatkan dalam berbagai proyek inovasi Pemerintah Kota Kediri.
“Mereka siap diterjunkan untuk membantu Pemkot Kediri dalam mempercepat lahirnya berbagai inovasi daerah,” kata Pulung.
Tawaran tersebut menarik karena menempatkan mahasiswa bukan sekadar sebagai konsumen ilmu pengetahuan. Mereka didorong menjadi bagian dari penyelesaian persoalan kota. Konsep itu sejalan dengan gagasan Legacy-Based University yang dikembangkan Udinus: mahasiswa tidak berhenti pada nilai akademik, tetapi dituntut meninggalkan karya nyata.
Jika diterapkan secara serius, kolaborasi semacam ini dapat mengubah wajah hubungan pemerintah dan kampus. Kampus tidak hanya datang membawa seminar, sementara pemerintah datang membawa program. Keduanya dapat bertemu di ruang yang sama: persoalan nyata masyarakat.
Jangan Sampai Digitalisasi Hanya Berganti Kemasan
Namun gagasan besar selalu memiliki satu persoalan: implementasi. Kota berbasis teknologi bukan kota yang paling banyak memiliki aplikasi. Bukan pula kota yang paling sering menggunakan istilah smart city dalam dokumen perencanaan.
Kota digital adalah kota yang mampu menggunakan teknologi untuk menjawab masalah warganya. Di sinilah konsep living lab yang ditawarkan Udinus akan diuji. Apakah mahasiswa benar-benar dapat dilibatkan dalam menyelesaikan persoalan transportasi, pendidikan, pelayanan publik, UMKM, lingkungan, hingga tata kelola pemerintahan? Apakah inovasi yang lahir dari kampus dapat masuk ke sistem pemerintahan, bukan berhenti sebagai proyek perkuliahan?
Dan yang paling penting: siapa yang memastikan inovasi itu benar-benar digunakan masyarakat? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting agar digitalisasi tidak sekadar berganti wajah birokrasi. Sistem manual berubah menjadi aplikasi, tetapi pelayanan tetap lamban.
Data sudah digital, tetapi keputusan masih dibuat tanpa basis data. Aplikasi bertambah, namun warga tetap harus datang ke kantor pemerintah. Jika itu yang terjadi, teknologi hanya menjadi kosmetik pembangunan.
Kediri Harus Memilih
Dinus Expo 2026 akhirnya bukan sekadar agenda kampus. Forum itu membuka perdebatan tentang arah Kediri dalam menghadapi perubahan zaman. Gus Qowim menawarkan prinsip: teknologi harus memberi kemaslahatan tanpa menghilangkan jati diri.
Udinus menawarkan ruang: Kediri dijadikan living lab bagi inovasi. Pemerintah memiliki kewenangan. Kampus memiliki pengetahuan dan sumber daya manusia. Masyarakat memiliki kebutuhan sekaligus pengalaman nyata atas persoalan kota.
Tinggal satu pertanyaan: maukah ketiganya benar-benar bekerja dalam satu ekosistem? Sebab di era ketika teknologi berubah hampir setiap hari, kota yang hanya menjadi pengguna akan selalu tertinggal.
Kediri memiliki sejarah sebagai pusat keilmuan. Kini sejarah itu sedang ditantang untuk membuktikan diri dalam bentuk yang berbeda. Bukan lagi lewat prasasti atau cerita kerajaan. Melainkan lewat inovasi yang benar-benar bekerja dan dirasakan warga. ade/wan

