KEDIRI — Halaman depan Kampus 1 Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri padat oleh ribuan warga dan sivitas akademika, Rabu malam, 5 Agustus 2026. Mereka datang untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang digelar dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-49 UNP Kediri.
Pertunjukan budaya yang menampilkan dalang Ki Sun Gondrong dan grup komedi Cak Percil Cs itu diawali dengan penyerahan Anugerah Kampus UNP Kediri 2026. Penghargaan ini diberikan kepada unit kerja, dosen, tenaga kependidikan, serta program studi yang dinilai berkontribusi menjaga mutu pendidikan di lingkungan kampus.
Kategori Unit Kerja Unggul diraih oleh Fakultas Ilmu Kesehatan dan Sains (FIKS), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), serta Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LPMPSDM). Adapun predikat Tendik Unggul disematkan kepada Arif Erwan, Aris Rahayu, dan Danang Sasongko.
Untuk kategori Dosen Unggul, penghargaan diberikan kepada Dr. Ika Santia, M.Pd., Dr. Faisol, M.M., dan Dr. M. Anas, M.M., M.Ak. Sementara itu, Program Studi Unggul diraih oleh Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Pendidikan Matematika, serta Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).
Rektor UNP Kediri, Dr. Zainal Afandi, M.Pd., menyebut penghargaan ini sebagai pemacu kinerja pegawai. “Saya berharap penganugerahan ini menjadi sumber motivasi serta inspirasi untuk terus mendongkrak kinerja,” ujarnya dalam sambutan.
Zainal mengingatkan bahwa tahun depan kampus memasuki usia emas, 50 tahun. Ia meminta seluruh elemen kampus bersiap memaksimalkan pencapaian lembaga.
Di tengah pidato, Zainal sempat berseloroh mengenai usia dan masa depan perayaan dies natalis. “Alhamdulillah kalau tahun depan kita bisa menyaksikan peringatan yang ke-50. Tapi kalau yang ke-100, saya jamin tidak mungkin ikut menyaksikan. Sekarang usia saya 58 tahun, kalau ditambah 50 tahun lagi tidak mungkin mencapai 108 tahun,” katanya, disambut tawa hadirin.
Ia juga menyoroti lakon wayang yang dibawakan malam itu, Wahyu Godo Inten. Zainal meminta hadirin menyimak cerita secara utuh agar tidak keliru menafsirkannya. “Jangan sampai kalau keluar di ujian, jawabannya malah ‘Mas Wahyu menggoda Mbak Intan’. Jangan diartikan ‘Wahyu sekretaris PASP menggoda Bu Intan Wakil Dekan FKIP’,” ujar Zainal terkekeh.
Lakon Wahyu Godo Inten mengisahkan perjuangan Wisanggeni, putra Arjuna, yang berjuang gigih membantu keluarga Pandawa meraih kemenangan dalam perang Baratayuda.
Zainal menutup sambutannya dengan mengajak hadirin memetik pesan moral dari pertunjukan wayang tersebut. “Melalui kesenian wayang, kita tidak hanya menikmati tontonan, melainkan juga memetik tuntunan untuk kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

