
Lamongan, Pojokkiri.com-Program bantuan becak listrik dari Presiden Prabowo Subianto mulai dirasakan dampaknya oleh para penarik becak di Kabupaten Lamongan. Meski membawa efisiensi tinggi, realita penghasilan di lapangan rupanya belum sepenuhnya membebaskan mereka dari impitan ekonomi.
Kisah ini datang dari M. Toyib (65), seorang penarik becak listrik asal Desa Sanur, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan. Setiap hari, Toyib mangkal menanti penumpang di seputaran Jalan Kombes Pol M. Duryat, tepatnya di depan Markas Komando (Mako) Polres Lamongan.
Saat ditemui pada Rabu (2/9/2026) siang, Toyib membagikan pengalamannya beralih dari becak manual ke armada bertenaga setrum tersebut. Dari sisi operasional, ia mengakui keunggulan teknologi ini yang dinilai sangat menghemat tenaga dan biaya.
“Becak listrik ini irit. Daya baterai kalau diisi penuh sampai 100 persen bisa digunakan untuk menempuh jarak hingga 50 kilometer,” ujar Toyib kepada POJOK KIRI.
Penggunaan harian Toyib terbilang efisien. Untuk jarak tempuh 10 kilometer, daya baterai yang terkuras bahkan tidak sampai 10 persen. Dalam sehari semalam, ia biasanya hanya menghabiskan kurang dari separuh kapasitas baterai. Kendati demikian, pengisian daya (charging) tetap harus ia lakukan setiap hari agar armada siap beroperasi keesokan paginya.
Meski hemat, Toyib membeberkan sejumlah keterbatasan teknis armada hijau tersebut. Kelemahan utamanya terletak pada aspek kecepatan. Becak listrik bantuan ini dirancang dengan batas kecepatan maksimal hanya 25 kilometer per jam, sehingga membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk perjalanan jarak menengah.
Jeritan Ekonomi di Balik Kemudahan Operasional
Di balik kemudahan mengayuh tanpa peluh, sisi finansial Toyib justru masih jauh dari kata sejahtera. Penghasilan dari menarik becak listrik ini tidak menentu. Saban hari, bapak tiga anak ini rata-rata hanya mampu membawa pulang uang bersih sebesar Rp40.000.
Ketika disinggung apakah pendapatan sekecil itu cukup untuk menghidupi keluarganya sehari-hari, Toyib seketika terdiam. Matanya berkaca-kaca menahan haru, membuat POJOK KIRI tak tega untuk mendalami pertanyaan tersebut lebih jauh.
Kondisi ekonomi yang serbasulit ini diperparah dengan minimnya jaminan sosial yang ia terima di rumah. Toyib mengaku, sepanjang satu tahun terakhir, keluarganya baru dua kali menerima bantuan sosial dari pemerintah daerah berupa beras.
“Pertama dapat bantuan beras 25 kilogram, dan yang kedua kalinya dapat 30 kilogram,” ungkapnya lirih.
Kisah Toyib menjadi potret nyata dari program modernisasi transportasi tradisional di daerah. Becak listrik terbukti mampu meringankan beban fisik para lansia seperti Toyib, namun urusan isi dompet dan pemenuhan kebutuhan pokok rupanya masih memerlukan intervensi kebijakan yang lebih menyeluruh dari pemerintah.(lut)
Editor: Zainul Lutfi

