
Gresik, pojokkiri.com
Jemari Avito Bintang Pratama menari lincah di atas kelir. Suaranya berganti-ganti karakter dengan sigap, membawakan lakon wayang kulit yang memikat penonton dalam Event Aksara 2026—perayaan HUT ke-74 UPT SMP Negeri 1 Gresik sekaligus peringatan HUT ke-81 RI.
Siapa sangka, dalang cilik yang tampil memukau siang itu adalah siswa berotak encer yang juga mengoleksi berbagai medali sains tingkat nasional.
Kisah cinta Bintang pada dunia pedalangan tidak lahir dari sanggar megah, melainkan dari gulungan pita kaset lama. Sejak usia lima tahun, Bintang kecil sudah terpesona oleh suara gamelan dan suluk dalang.
Tanpa guru khusus, ia mempelajari seni warisan budaya ini secara autodidak hanya dengan menonton dan mendengarkan kaset pementasan wayang di rumahnya.
“Sejak usia 5 tahun. Tanpa guru khusus, saya belajar secara autodidak dari pementasan wayang di kaset,” kenang Bintang sambil tersenyum, Selasa (1/9/2026).
Barulah saat duduk di kelas 4 SD, keseriusannya makin terasah setelah ia bergabung dengan Sanggar Mahesa Kencana. Lewat gemblengan sanggar tersebut, bakat alamiah Bintang kian melejit.
Ia berhasil menyabet gelar Terbaik ke-5 Bidang Sabet dan Antawacana Tingkat Nasional di Sragen pada 2024, serta dipercaya menjadi salah satu dari tiga dalang cilik asal Gresik dalam pentas akbar PT Petrokimia Gresik.
Uniknya, kecintaan Bintang pada tradisi tak sedikit pun mengikis prestasi akademiknya di sekolah. Di UPT SMP Negeri 1 Gresik, Bintang tercatat sebagai siswa Kelas Olimpiade bidang IPA.
Di sela-sela mengolah vokal dan kelincahan tangan memainkan jepitan wayang, Bintang berhasil menyabet medali emas Biologi tingkat nasional dalam ajang Focus Learning serta medali perunggu Matematika tingkat nasional.
Keberhasilan Bintang memadukan dua dunia yang berlawanan ini tak lepas dari ekosistem sekolah yang mendukung. Kepala UPT SMPN 1 Gresik, Beri Avita Prasetya, menegaskan pentingnya keseimbangan antara sains dan karakter.
“Pendidikan karakter kami tekankan. Kami mendukung kegiatan siswa, baik akademik maupun non akademik. Harapannya, mereka tidak hanya memiliki prestasi, tetapi juga karakter dan kepercayaan diri serta kepemimpinan yang baik,” ujar Beri.
Senada dengan hal itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Nurul Wahyu Purwaningtyas, menjelaskan bahwa sekolah memfasilitasi setiap potensi lewat kelas khusus seperti Kelas Olimpiade dan Tahfidz, di mana setiap jenjang menampung sekitar 32 siswa berbakat untuk mendapatkan pendampingan intensif.
Bintang adalah cermin dari generasi muda Kota Pudak. Sosok remaja modern yang menguasai ilmu pengetahuan tanpa kehilangan akar budayanya. Di tangannya, wayang kulit bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan napas tradisi yang terus hidup di tengah deru prestasi masa kini. (Dyo)

