Pojokkiri.com

Dari Eceng Gondok Jadi Produk Bernilai, Bambang Haryo Dorong Kriya Lokal Tembus Pasar Lebih Luas

Surabaya Pojokkiri.com — Bahan yang kerap dianggap gulma dapat menjadi peluang usaha ketika diolah dengan kreativitas dan keterampilan. Eceng gondok, misalnya, dapat dirangkai menjadi tas kerajinan tangan yang memiliki nilai jual dan berpeluang menjangkau pasar lebih luas.

Peluang tersebut diperkenalkan kepada 70 peserta dalam pelatihan ekonomi kreatif bidang kriya yang diinisiasi Komisi VII DPR RI bersama Kementerian Ekonomi Kreatif. Kegiatan ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan mengolah bahan lokal sekaligus mendorong tumbuhnya pelaku usaha kreatif baru.

Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra sekaligus Kapoksi Komisi VII DPR RI, Ir. H. Bambang Haryo Soekartono, M.I.Pol., mengatakan pelatihan tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengembangkan potensi sumber daya lokal melalui kreativitas dan inovasi.

Dalam pelatihan itu, peserta belajar membuat tas dari eceng gondok. Menurut Bambang, pemanfaatan bahan yang sebelumnya belum diolah secara optimal dapat membuka peluang terciptanya produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

“Eceng gondok yang selama ini belum banyak dimanfaatkan dapat diolah menjadi produk kerajinan dengan nilai jual. Potensi ini perlu dikembangkan agar memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Bambang, Sabtu (24/10/2026).

Ia menilai, pelatihan keterampilan produksi perlu diikuti pendampingan yang berkelanjutan. Pelaku UMKM juga membutuhkan dukungan dalam hal permodalan, manajemen usaha, sertifikasi, dan pemasaran agar produk yang dihasilkan dapat berkembang menjadi usaha yang lebih kuat.

“Pelaku UMKM perlu difasilitasi, mulai dari akses permodalan dan penguatan manajemen hingga sertifikasi. Setelah produk dibuat, pemasaran juga harus mendapat perhatian agar usaha mereka bisa terus berkembang,” katanya.

Bambang menambahkan, produk kriya memiliki peluang untuk mendukung sektor pariwisata sekaligus memperkenalkan kekhasan budaya Indonesia. Produk yang memiliki identitas dan kualitas baik, menurut dia, dapat menarik minat konsumen di pasar domestik maupun internasional.

Sekretaris Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif RI, Amir Hamzah, menjelaskan bahwa pemanfaatan eceng gondok memberi nilai tambah pada bahan alam yang tumbuh di lingkungan Indonesia.

Ia menilai, produk kriya berbahan alam memiliki ciri tersendiri yang dapat menjadi pembeda di pasar. Keunikan bahan dan proses pembuatannya berpotensi menarik perhatian konsumen, termasuk di pasar internasional seperti Eropa.

“Eceng gondok merupakan tanaman gulma yang dapat dimanfaatkan menjadi produk kriya. Pengolahannya memberi karakter tersendiri pada produk, sehingga memiliki keunikan dibandingkan barang yang dibuat secara massal,” tutur Amir.

Meski demikian, pengembangan produk berbahan eceng gondok masih menghadapi tantangan, terutama dalam menjaga mutu bahan. Proses pengeringan perlu diperhatikan agar bahan tidak mudah berjamur dan produk yang dihasilkan memenuhi standar kualitas.

Untuk mendukung peningkatan mutu tersebut, Kementerian Ekonomi Kreatif berencana menjajaki kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kolaborasi ini diharapkan dapat membantu pengembangan teknik pengolahan bahan sekaligus mendorong inovasi produk kriya.

Pembinaan juga diarahkan untuk melahirkan talenta baru yang mampu mengembangkan kerajinan berbasis potensi daerah. Dengan keterampilan dan pendampingan yang tepat, peluang usaha dapat tumbuh lebih luas di berbagai wilayah.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya, Herry Purwadi, S.Sn., berharap pelatihan tersebut membawa dampak nyata bagi pelaku UMKM di Kota Pahlawan.

Ia mendorong pelaku usaha lokal untuk terus meningkatkan kualitas produk dan memperluas jangkauan pemasaran. Menurut Herry, produk UMKM perlu memiliki daya saing agar dapat menembus pasar yang lebih luas.

“Kami berharap UMKM bisa naik kelas. Produk mereka perlu berkembang, tidak hanya dikenal di tingkat lokal dan regional, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menjangkau pasar internasional,” ujar Herry.

Herry menilai, pemanfaatan bahan yang sebelumnya kurang bernilai menjadi produk kerajinan merupakan bentuk inovasi yang dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. Apabila dikelola secara konsisten, kegiatan tersebut juga berpotensi menambah pendapatan pelaku UMKM dan mendukung perekonomian Surabaya.

Produk kriya yang memiliki ciri khas, lanjutnya, dapat menjadi bagian dari daya tarik pariwisata. Ketika produk lokal semakin dikenal, promosi daerah pun berpeluang menjangkau khalayak yang lebih luas.

Pengembangan kriya eceng gondok membutuhkan dukungan yang menyeluruh. Ketersediaan bahan baku, keterampilan tenaga kerja, pengendalian kualitas, akses pembiayaan, dan pemasaran perlu berjalan beriringan agar produk tidak berhenti pada tahap pelatihan.

Dengan pembinaan yang berkelanjutan, eceng gondok diharapkan dapat menjadi salah satu sumber inspirasi bagi tumbuhnya usaha kreatif berbasis bahan lokal. Peluang ini bukan hanya menghadirkan produk kerajinan bernilai jual, tetapi juga membuka jalan bagi UMKM untuk memperluas pasar dan memperkuat identitas produk Indonesia (sul)

Berita Terkait

Riuh Tawa Ning Lia Meriahkan HUT RI ke-80 dengan Lomba Unik

Polrestabes Bersama Warga Embong Kaliasin Bangun Ketahanan Pangan Lewat Budidaya Lele dan UMKM Abon Lele

Momen Libur Sekolah, Bambang Haryo Soekartono, Fasilitasi Ratusan Khitanan Massal Gratis