
Surabaya Pojokkiri.com – Lebih dari sekadar nama dalam dunia fashion klasik Indonesia, Bie Hin Tailor adalah kisah panjang tentang dedikasi, kepercayaan, dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan sejak tahun 1930. Di bawah naungan tangan terampil mendiang Mr. Yong Kong, Bie Hin menjadi simbol integritas dalam dunia penjahitan dan gaya pria modern.
Kini, nyala semangat itu dilanjutkan oleh Abraham Setiawan, Presiden Direktur Bie Hin Tailor Group, yang menghidupkan kembali perusahaan ini dari tantangan krisis ekonomi tahun 2011. Dengan prinsip craftsmanship yang presisi dan pelayanan kelas atas, Bie Hin kembali menjahit bukan hanya busana, tetapi juga harapan.
Sebagai bentuk perayaan 95 tahun warisan Bie Hin, acara bertajuk “La Maison Fantasia” digelar di Shangri-La Grand Ballroom Surabaya. Pertunjukan ini bukan sekadar panggung teatrikal biasa, melainkan pernyataan visi dan nilai hidup. Terinspirasi dari semangat moral dan pesan Disney, pertunjukan ini memadukan runway dan musik dalam narasi interaktif bertabur pesan kepedulian.
“Melalui acara ini, kita mau share tentang mimpi dan kepercayaan atas perjalanan bisnis sejati, tak hanya tentang pertumbuhan usaha, tapi juga tentang bagaimana kita bisa memberi kembali kepada masyarakat,” tutur Abraham, pada Jumat (25/07).
Di balik gemerlap visual pertunjukan, tersimpan misi besar: menyuarakan keberanian, cinta tanpa pamrih, ketekunan, serta kejujuran dalam setiap langkah bisnis dan kehidupan.
Tak hanya pertunjukan panggung, Bie Hin Tailor juga menghadirkan bazaar amal bertajuk Together We Rise yang menjadi ruang kolaborasi sosial antara brand lokal dan masyarakat.
Beberapa brand ternama yang berpartisipasi antara lain Peurle Jewelry, Atara Batik, Avue Parfums, Gifanka Gallery, dan Facena Beauty Clinic. Masing-masing brand berkomitmen menyumbangkan minimal 30% dari hasil penjualan untuk membantu anak-anak dari keluarga prasejahtera dan penyandang disabilitas di Surabaya.
Bie Hin memahami bahwa masih banyak anak-anak Indonesia yang hidup dalam kondisi rentan kurang gizi, akses pendidikan terbatas, dan minimnya ruang bermain aman. Di sisi lain, penyandang disabilitas masih sering terpinggirkan akibat keterbatasan akses ke fasilitas publik, pendidikan, maupun transportasi.
Lewat kolaborasi ini, Bie Hin ingin menjadi jembatan harapan bukan hanya berbagi materi, tetapi membangun ekosistem sosial yang inklusif.
Acara ini juga diramaikan oleh deretan figur publik dan profesional dari berbagai bidang yang turut menyuarakan nilai kemanusiaan melalui panggung La Maison Fantasia. Di antaranya adalah Eisheba Soetopo (Pastor Alpha Omega Church), Vania Tantoyo (Direktur The Grand Kenjeran), Michael Lauw (Desainer Interior), Novia Simon (Founder 3C Gym), Dr. Daniel Widiyanto (Facena Beauty Clinic), Dian Apriliona (Direktur Marketing Pakuwon Group), hingga Inne Nova (Ketua Hijabers Mom Community).
Kehadiran mereka dalam balutan jas dan busana rancangan khusus Bie Hin Tailor dengan tema Disney tak sekadar fashion tetapi juga seruan moral agar setiap individu menjadi “pahlawan kecil” bagi sesama.
“Fashion bukan hanya apa yang terlihat, tetapi apa yang diyakini dan disampaikan,” begitu filosofi yang ingin disampaikan Bie Hin lewat acara ini.
Dengan dukungan Nuansa Concept dan Majestic Hocus Pocus, pertunjukan ini menjadi simbol bahwa keindahan visual dapat bersanding sempurna dengan kedalaman nilai kemanusiaan. Bahwa sehelai jas bisa menjahit perubahan. Bahwa runway bisa menjadi ruang perjuangan sosial.
Dan bagi Bie Hin, charity bukan sekadar tindakan filantropi tapi sebuah tanggung jawab sosial yang melekat dalam setiap jahitan, setiap setelan, setiap langkah (Sam)

