Surabaya, Pojok Kiri – Mengupas kehidupan malam wanita-wanita penghibur yang biasa disebut Purel tidak akan ada habisnya. Berbagai sisi kehidupan lady Escort ini menarik untuk diangkat. selain itu bekerja ditempat hiburan malam sangat rentan terhadap pengaruh narkoba juga banyak bergelimpang uang.
Dibeberapa kota besar di Indonesia yang keberadaan tempat hiburan malamnya banyak bermunculan jelas akan menarik minat masyarakat untuk bekerja, terutama wanita pekerja malam atau purel. Saat ini entah kenapa wanita-wanita pekerja malam banyak didominasi oleh wanita-wanita asal Jawa Barat.
Dikota Surabaya banyak kita temui wanita-wanita asal Bandung Jawa Barat yang bekerja sebagai lady escort atau purel. Mereka kebanyakan bekerja di panti-panti pijat berkelas seperti Spa, jadi tak heran bila ada istilah ‘Bondon’ untuk wanita asal Jawa Barat tersebut.
Fenomena wanita malam, atau yang lebih dikenal dengan nama “Bondon” bagi warga Jawa Barat khususnya kota Bandung masih menarik untuk dibahas kali ini. Awal mula kata Bondon muncul pada tahun 1980an.
Bondon sendiri berasal dari kata Bound (Batas) dan Don’t yang artinya jangan. Kira – kira frase dari kedua kata tersebut mengandung arti “jangan dibatasi” yang menunjuk kepada perilaku para PSK yang mana profesi mereka tidak pernah ingin dibatasi dengan norma – norma tertentu.
Namun, pada masa itu, kata Bondon tidak selalu identik dengan PSK. Bisa juga ditujukan kepada mahasiswa atau siswa sekolahan yang kelewat batas dengan melakukan hubungan intim di luar pernikahan yang sah.
Seiring berjalannya waktu, kini ungkapan Bondon kembali mencuat dan lebih merujuk kepada gadis malam yang sering mangkal di tempat hiburan malam di Surabaya. Nightlife di Kota Surabaya yang begitu keras, ditambah dengan berbagai macam tekanan akan kebutuhan hidup, membuat para Bondon ini tidak saja berasal dari para PSK full time. Tidak bisa dipungkiri memang sebagian dari mereka ada yang menjadi Bondon Part Time yang sebenarnya mereka adalah mahasiswi atau karyawati yang bekerja di Surabaya.
Dengan majunya teknologi saat ini, akan lebih mudah lagi untuk mendapatkan jasa mereka. Yang paling populer adalah melalui aplikasi chating yang menyediakan fitur mencari orang – orang sekitar. Jika ditelusuri lebih lanjut, hampir sebanyak 70 persen penghuni aplikasi tersebut adalah wanita yang menawarkan jasa cinta satu malam dengan berbagai macam tarif yang bervariasi.
Fakta di lapangan juga mengungkap bahwa sebagian dari mereka memang ada yang bekerja sebagai karyawati, ada juga yang menempuh pendidikan , dan yang lebih mencengangkan lagi, ada juga Ibu Rumah Tangga yang terjerumus ke dalam lembah prostitusi online ini.
Bagaimana pun juga, keberadaan para Bondon ini memang nyata, mereka juga sejatinya adalah wanita biasa yang sebenarnya tidak ingin menjerumuskan diri ke dalam bisnis tersebut. Namun, kebutuhan hidup yang semakin tinggi membuat mereka terpaksa untuk mengambil jalan pintas untuk sekedar bertahan hidup di kota Surabaya ini.(Gat/Bersambung)

