Pojokkiri.com

JEJAK SEJARAH: Mengulas Nguwok, Eks Lokalisasi Terbesar Lamongan yang Kini Jadi Pusat Ekonomi Rakyat

 

Ilustrasi

Lamongan, Pojokkiri.com-Melanjutkan kesuksesan ulasan sejarah eks Lokalisasi Bilo yang mendapat antusiasme luar biasa dari pembaca setia pada edisi 6 Maret lalu, Harian Pagi Pojok Kiri kembali menelusuri jejak transformasi lokasi legendaris di Kabupaten Lamongan.Kali ini, sorotan tertuju pada eks Lokalisasi Nguwok yang terletak di Desa Nguwok, Kecamatan Modo.

Nguwok bukan sekadar nama desa, dalam catatan sejarah sosial Lamongan, wilayah ini sempat menjadi pusat keramaian baru setelah peristiwa terbakarnya Lokalisasi Bilo di Kecamatan Lamongan Kota. Relokasi besar-besaran kala itu menjadikan Nguwok sebagai pengganti pusat hiburan malam terbesar di masanya.

Bonaparte (60) bukan nama sebenarnya, seorang saksi sejarah asal Sukodadi, membagikan ingatannya secara detail kepada wartawan Pojok Kiri, Selasa (17/3/2026). Ia menggambarkan betapa masifnya kompleks tersebut pada masa kejayaannya.

“Luas areanya cukup signifikan, dengan bangunan yang memanjang sekitar 100 meter dan lebar 30 meter. Seluruh kompleks dipagar tembok tinggi mengelilingi area tersebut, menjadikannya lokalisasi terbesar di Lamongan dan sekitarnya saat itu,” kenang Bonaparte.

Di dalam tembok tersebut, tercatat ada sekitar 50 rumah yang dikelola oleh puluhan mucikari. Namun, lembaran hitam tersebut akhirnya ditutup rapat oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan di era kepemimpinan Bupati Muhamad Farid pada awal tahun 1990-an.

Langkah berani Bupati M. Farid kala itu membuahkan hasil manis bagi masyarakat. Alih-alih membiarkan lahan tersebut terbengkalai, pemerintah melakukan transformasi total. Eks lokalisasi Nguwok diubah fungsinya menjadi Pasar Hewan Sapi.

Kini, wajah Nguwok telah berubah sepenuhnya. Jejak-jejak masa lalu telah berganti dengan hiruk pikuk perdagangan ternak yang menjadi urat nadi ekonomi warga Kecamatan Modo dan sekitarnya. Perubahan ini menjadi bukti nyata kesuksesan alih fungsi lahan dari pusat penyakit sosial menjadi pusat pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang tetap eksis hingga saat ini.(lut)

 

Editor: Zainul Lutfi

Sumber: www.pojokkiri.com dan Koran Harian Pagi Pojok Kiri