
Jakarta, Pojok Kiri.Com,- Museum Nasional Indonesia kembali menghadirkan pameran topeng bertaraf internasional melalui kolaborasi kebudayaan antara Pemerintah Republik Korea Selatan dan Indonesia. Pembukaan pameran dilaksanakan pada 26 Oktober 2026 dengan mengangkat tema “Dua Wajah Satu Jiwa”. Pameran resmi diselenggarakan tahun ini setelah sempat tertunda akibat proses pemulihan pascakebakaran di Museum Nasional.
Penyelenggaraan pameran ini berawal dari surat permohonan kerja sama yang diajukan oleh Kedutaan Besar Republik Korea di Jakarta kepada pemerintah Indonesia. Pameran ini bertujuan utama untuk mempererat hubungan kerja sama kebudayaan yang telah lama terjalin dan bersahabat antara kedua negara, sekaligus menjadi sarana bagi masyarakat kedua belah pihak untuk saling memahami kebudayaan masing-masing.

Dibandingkan dengan pameran-pameran lain yang bersifat tematik umum, pameran topeng ini memiliki keunikan tersendiri karena menjadi jembatan langsung kerja sama kebudayaan antarnegara. Mengusung tajuk “Dua Wajah Satu Jiwa”, pameran ini menampilkan kekayaan topeng dari Korea Selatan yang ditata berdasarkan etnik dan provinsi, disandingkan dengan keragaman topeng dari berbagai wilayah etnik di Indonesia dengan jumlah sekitar 20 hingga 30 koleksi pilihan yang merepresentasikan keunikan masing-masing daerah.
Menyatukan konsep dan penyajian koleksi dari dua negara dengan latar belakang budaya yang berbeda tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Pihak penyelenggara dituntut untuk merangkum narasi agar para pengunjung dapat memaknai persahabatan di balik perbedaan wujud dan etnik topeng, di mana Korea Selatan dan Indonesia sama-sama memiliki tradisi pembuatan topeng yang kaya akan nilai filosofis.
Dalam menyukseskan pameran ini, Gunawan selaku Kepala Unit Storage Museum dan Cagar Budaya mengatakan bahwa “Kami akan bertanggung jawab penuh dalam mendukung kebutuhan material pameran”.
Lebih lanjut ia menjelaskan terkait proses pemindahan hingga penyimpanan harus dilakukan dengan prosedur yang ketat “Topeng-topeng tersebut dilakukan melalui prosedur ketat, yang meliputi pendataan inventaris dan pembaruan lokasi simpan secara akurat guna memudahkan penelusuran koleksi, pembuatan berita acara resmi untuk setiap koleksi yang keluar dan masuk, serta pengawasan konservasi yang ketat guna menjaga kelayakan fisik benda, termasuk pemeliharaan lingkungan dan tingkat kelembapan ruang pamer maupun tempat penyimpanan” tutur Gunawan.

Menurutnya, keberhasilan persiapan pameran ini juga tidak lepas dari koordinasi yang solid sebagai tulang punggung antara unit registrasi, kurator, konservator, dan panitia penyelenggara, di mana masing-masing pihak berbagi peran untuk memastikan aspek kondisi, narasi, dan kelayakan benda terpenuhi dengan baik.
Agar koleksi topeng tradisional lebih menarik dan mudah dipahami oleh pengunjung masa kini, khususnya generasi muda, pihak museum mengemas pameran ini dengan fasilitas penataan cahaya yang menarik, tampilan visual yang apik, serta dukungan program publik menjelang akhir Januari.
Melalui pameran ini, generasi muda diharapkan tidak hanya terpapar oleh budaya populer Korea seperti film dan musik, tetapi juga dapat menyadari bahwa Korea Selatan dan Indonesia memiliki kedekatan tradisi topeng yang sarat akan nilai budaya.
Pihak Museum dan Cagar Budaya yang dikepalai oleh Indira Esti Nurjadin ini berharap kolaborasi budaya antara Indonesia dan Korea Selatan dapat terus berlanjut di masa mendatang melalui bentuk kerja sama lain yang saling menguntungkan. Di samping pameran, diharapkan program peningkatan kapasitas sumber daya manusia seperti pelatihan bagi pegawai museum untuk belajar langsung di Korea Selatan dapat kembali terjalin guna mendukung kemajuan permuseuman di tanah air.(Nataya)

