
Surabaya Pojokkiri.com – Lonjakan kasus perundungan yang kembali mencuat, termasuk insiden memilukan di Tangerang, menjadi perhatian serius para pemerhati pendidikan. Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Ajeng Wira Wati, menegaskan bahwa fenomena ini merupakan indikator melemahnya nilai unggah-ungguh dan tepo seliro dalam kehidupan anak muda masa kini.
Menurut Ajeng, empati, rasa menghormati, dan tenggang rasa yang dahulu menjadi karakter kuat generasi bangsa mulai tergerus oleh pengaruh perkembangan digital. Ia menilai, perubahan pola komunikasi yang serba daring telah membuat sebagian pelajar sulit memahami batasan dalam bersosialisasi.
“Ketika interaksi nyata tergantikan layar dan emoji, pelan-pelan anak-anak kehilangan sensitivitas terhadap perasaan orang lain. Itulah yang kemudian melahirkan perilaku mengejek hingga merundung,” ungkapnya dengan nada prihatin, Senin (16/11/2025).
Ketua Fraksi Gerindra DPRD Surabaya itu juga mengakui bahwa penggunaan gawai tak dapat dipisahkan dari kehidupan generasi modern. Namun, jika tanpa pendampingan yang memadai, dunia digital dapat berubah menjadi ruang yang mendorong kekerasan verbal, ledekan, hingga aksi yang membahayakan secara fisik maupun psikis.
“Pada akhirnya, yang menonjol bukan lagi sopan santun, melainkan siapa yang paling lucu meski dengan cara merendahkan orang lain. Bahkan rasa hormat kepada orang yang lebih tua pun perlahan memudar,” jelasnya.
Ajeng menegaskan bahwa keluarga memiliki posisi paling penting dalam membangun karakter anak dan mencegah perilaku menyimpang sejak dini. Menurutnya, sekolah tidak mungkin melakukan pengawasan penuh terhadap perubahan perilaku setiap anak.
“Orang tua adalah benteng pertama. Pendampingan dalam penggunaan gadget wajib dilakukan agar anak tetap berada dalam koridor yang sehat dan tidak kehilangan arah,” tuturnya.
Selain peran keluarga dan sekolah, Ajeng juga mendorong peningkatan program peer group atau pendekatan teman sebaya yang telah berjalan di Surabaya. Menurutnya, remaja akan lebih mudah menyampaikan keluh kesah, rasa takut, atau ketidaknyamanan kepada sahabat terdekat dibandingkan guru atau orang dewasa.
“Teman sebaya adalah pihak yang bisa menjadi penjaga satu sama lain. Mereka dapat menjadi penyelamat pertama sebelum masalah semakin parah,” tandasnya.
Di akhir, Ajeng menekankan bahwa upaya pencegahan perundungan harus menyentuh seluruh aspek lingkungan anak. Kolaborasi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah dibutuhkan untuk memastikan bahwa pelajar tumbuh di ruang yang aman, menyenangkan, dan tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
“Kita ingin para pelajar Surabaya tumbuh sebagai generasi yang percaya diri, sopan, dan punya empati. Itulah pondasi menuju masa depan yang lebih sehat bagi kota ini,” pungkasnya (sul).

