
Mojokerto, Pojok Kiri – Tepuk tangan untuk PPDI. Organisasi Perangkat Desa Indonesia genap 20 tahun. Lahir 16 Juni 2006.
Tapi di balik usia dua dekade itu, ada cerita yang belum selesai. Cerita tentang kesejahteraan.
Ketua PPDI Kabupaten Mojokerto, Drs. Heru Mulyono, blak-blakan soal ini saat jumpa pers di Jabon Tower Mojokerto, Selasa siang.
“Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah. PPDI masih solid, masih kompak bersama semua perangkat desa yang tergabung,” kata Heru Selasa (23/6/2026).
20 tahun bukan waktu sebentar. Banyak capaian sudah diraih. Tapi Heru bilang, PR masih numpuk.
Tiga Hal yang Mendesak
Heru menyebut 3 tuntutan utama sekarang:
1. *Tunjangan purna tugas* buat perangkat desa yang ngabdi puluhan tahun
2. *Tunjangan kesehatan* untuk yang sudah pensiun/purnabakti
3. *Siltap dan THR* yang pasti, jangan telat
“Siltap itu penghasilan tetap kami. THR juga hak. Nah, yang purna tugas ini lho… Masa iya mengabdi sampai tua, pensiunnya gak jelas?” ucap Heru.
Ujung Tombak di Desa
Heru juga cerita kerjaan sehari-hari perangkat desa.
“Kami ini sering jadi ujung tombak. Program pemerintah turun ke desa, kami yang jalanin. Kadang bentrok sama warga juga iya. Tapi tetap harus dilayani sepenuh hati,” katanya.
Gesekan sama warga memang risiko kerja. Tapi pelayanan nomor satu.
Usia 20, Tantangan Baru
Sekarang PPDI Mojokerto di usia 20 tahun. Tantangannya: gimana caranya pengabdian panjang anggotanya dibalas layak.
Baik yang masih aktif, maupun yang sudah purna tugas.
“Kalau kesejahteraan diabaikan, nanti siapa yang mau jadi perangkat desa? Desa mau maju gimana?” tanya Heru.
Pertanyaan itu sekarang dilempar ke pemerintah pusat dan daerah. Jawabannya ditunggu ribuan perangkat desa. (Jay/Adv)

