Pojokkiri.com

Yanda Maria Elsera Sinaga: Juru Bahasa Isyarat Konferensi Pers Polres Lamongan

 

Yanda Maria Elsera Sinaga bersama Kasi Humas Polres Lamongan Ipda M.Hamzaid, S.Pd.(Pojok Kiri/Zainul Lutfi)

Lamongan, Pojok Kiri.com- Polres Lamongan, Polda Jawa Timur secara berkala mengelar Jumpa Pers menyampaikan informasi pengungkapan kasus tindak kejahatan yang terjadi di wilayah hukum Polres Lamongan.

Agenda tersebut juga menjadi sarana Polres Lamongan menyampaikan banyak informasi ke masyarakat melalui insan pers.

Dalam agenda penyampaian informasi, belakangan selalu ada sosok seorang gadis dengan gerakan isyarat tangan dan mimik wajah, mengalih bahasakan bahasa tutur ke bahasa isyarat.

Dia adalah Yanda Maria Elsera Sinaga (29), gadis kelahiran Surabaya 15 Maret 1995. Gadis yang akrab disapa Yanda ini merupakan warga Sukodono, Kabupaten Sidoarjo ini selalu hadir bersama Humas Polres Lamongan guna menerjemahkan informasi khusus bagi masyarakat difabel tuna rungu.

Yanda alumnus Universitas Brawijaya Malang Fakultas pertanian (S1) sudah malang melintang sebagai Juru bahasa isyarat di konfrensi pers polres di wilayah Polda Jawa Timur ini.

“Saya 1,5 tahunan menjadi penerjemah di Polres Lamongan. Tapi sebelum itu pernah menjadi penerjemah di Polrestabes Surabaya dan Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya,” terang Yanda, didampingi Kasi Humas Polres Lamongan, Ipda M.Hamzaid, Jumat (16/5/2025).

Yanda kemudian bercerita mengenai awal mula menjadi penerjemah bahasa isyarat ini. Dia mengatakan bahwa kemampuan menjadi penerjemah bahasa isyarat ini awalnya dia dapat sebagai Volunteer disabilitas Universitas Brawijaya Malang.

“Saya berminat mendalami bidang ini sebagai bentuk kepedulian terhadap teman-teman disabilitas tuna rungu. Karena, mereka tentu kesulitan mengakses informasi dari media Televisi atau audio, dengan menjadi penerjemah, semoga ini bisa membantu mereka,” harap Yanda.

Lebih lanjut Yanda mengatakan, bahwa apa yang dia lakukan selama ini, belum bisa dikatakan sebagai sebuah profesi. Dia menjalaninya sebagai bentuk kepedulian terhadap teman-teman disabilitas tuna rungu.

“Selama ini saya masih Freelance, jadi belum profesi,secara rutin diundang Polres Lamongan untuk acara Pers Rilis, sebulan antara 1 atau 2 kali acara,” lanjutnya.

Untuk pengalaman yang berkesan saat bertugas, Yanda mengatakan bahwa di samping bisa membantu akses informasi untuk teman-teman disabilitas tuna rungu, dia mengaku merasa senang, bisa mengetahui perkembangan informasi khususnya dari Lamongan.

“Selain itu saya bisa menambah relasi baik dengan anggota kepolisian setempat maupun dengan teman-teman media,” kata dia.

Saat ditanya soal kendala yang dihadapi, Yanda menambahkan, dalam menjalankan tugasnya, dia harus mampu meringkas materi yang akan disampaikan, sehingga disabilitas tuna rungu bisa lebih gampang menangkap dalam bahasa isyarat.

“Teman-teman disabilitas memang memiliki hambatan dalam pendengaran sehingga berpengaruh terhadap informasi yang diperoleh. Maka dari itu untuk mempermudahnya dengan memberikan penerjemah,”.

“Teman-teman tuna rungu itu sebenarnya juga bisa membaca oral (gerak bibir), tetapi yang mengucapkan harus pelan dan jelas artikulasinya,” imbuh Yanda lagi.

Untuk memudahkan penyampaian, Yanda mengungkapkan, sebelum informasi disampaikan dalam bahasa isyarat, maka dia harus mempelajari isinya terlebih dulu.

“Saya padatkan materi informasinya, saya ringkas dengan bahasa atau kosa kata yang nantinya mudah mereka terima,” lanjutnya.

Ke depan, Yanda berharap, bahwa akses masyarakat terhadap informasi bisa lebih mudah dan terbuka, termasuk bagi mereka yang menyandang disabilitas tuna rungu.

Dia juga berharap, terobosan Polres Lamongan dengan menghadirkan penerjemah bahasa isyarat di acara Pers Release ini akan dilakukan oleh Instansi-instansi lain sebagai bentuk pelayanan informasi terhadap disabilitas.

“Yang terpenting bagi saya, ilmu yang saya pelajari selama saya kuliah dapat membantu dan bermanfaat bagi masyarakat terutama teman-teman disabilitas tuna rungu. Karena tidak semua orang mau atau mampu menguasai bahasa Isyarat, sampai saat ini pun saya masih terus belajar bahasa isyarat itu,” pungkasnya.(lut)

Profil Yanda Maria Elsera Sinaga, kelahiran Surabaya 15 Maret 1995

Riwayat Pendidikan:
-S1 Pertanian Universitas Brawijaya Malang
-SMA Intensif Taruna Pembangunan Surabaya
-SMPN 2 Gedangan SDA
-SDN Wage 1 SDA
-Status single/belum menikah