
Oleh:Zainul Lutfi Wartawan Harian Pojok Kiri Biro Pantura
Kabar mundurnya Fariz Julinar Maurisal dari kursi Manajer Persela Lamongan menjadi bisik-bisik hangat yang mengalir di warung-warung kopi Lamongan. Di antara kepulan asap rokok dan gelas kopi yang tak kunjung habis, para Persela Fan garis keras membicarakannya dengan cara mereka sendiri—keras, jujur, dan apa adanya.
Menariknya, para fan ini bukan sedang memperdebatkan siapa penggantinya. Nama Edy Yunan Ahmadi yang santer diberitakan bakal kembali mengisi posisi tersebut, atau bahkan nama lain sekalipun, tidak menjadi inti kegelisahan mereka. Bagi mereka, Persela lebih besar daripada satu nama. Lebih penting dari sekadar siapa yang duduk di kursi manajer.
Yang justru menjadi garis tegas dalam obrolan kopi itu adalah satu harapan: pengganti Fariz, siapa pun dia, harus hadir sebagai manajer sepak bola yang profesional, bukan figuran politik.
Di Lamongan—seperti halnya di banyak daerah lain—sepak bola kerap menjadi ruang yang mudah diseret-seret ke kepentingan tertentu. Fans tahu itu. Mereka paham bagaimana atmosfer klub bisa berubah ketika jabatan manajer dijadikan panggung kepentingan. Dan mereka tidak menginginkan Persela menjadi korban dari dinamika seperti itu lagi.
Persela bagi mereka adalah identitas. Kebanggaan. Rumah besar yang harus dijaga marwahnya. Karena itu, tuntutan mereka sederhana namun tegas: manajer baru harus fokus pada pembenahan tim, pengembangan pemain, membangun komunikasi yang sehat dengan suporter, dan menghadirkan semangat profesional tanpa embel-embel politik.
Hengkangnya Fariz Julinar Maurisal mungkin menjadi babak baru, sekaligus tanda tanya besar. Namun di balik gunjingan di warung kopi, ada suara-suara tulus yang menginginkan Persela kembali berdiri dengan kepala tegak. Fans tidak meminta banyak—cukup agar manajer baru mengutamakan Persela, bukan agenda pribadi.
Dan seperti secangkir kopi yang pelan-pelan habis, obrolan di warung itu menutup satu harapan: Persela harus tetap menjadi klub yang dibangun oleh kecintaan, bukan kepentingan.(*)

