Pojokkiri.com

Persela Harus Bergerak Cepat Sebelum Eksodus Pemain Jadi Kenyataan

Oleh: Zainul Lutfi, Wartawan Harian Pojok Kiri Biro Pantura

Rumor hengkangnya sejumlah pemain Persela Lamongan belakangan ini bukan sekadar angin lalu. Isu tentang eksodus besar-besaran ke PSIS Semarang makin menguat setelah mantan CEO Persela, Fariz Julinar, resmi mendampingi istrinya, Datu Nova, sebagai CEO baru PSIS. Perpindahan pucuk pimpinan ini seolah memantik “migrasi” baru—bukan hanya di level manajerial, tetapi juga potensi perpindahan talenta terbaik Persela.

Beberapa sumber bahkan menyebutkan adanya “gerbong” pemain Persela—mulai dari pemain asing, naturalisasi, hingga playmaker inti—yang menjadi incaran utama PSIS untuk bursa transfer Januari 2026. Angkanya tidak main-main: sekitar tujuh pemain dikabarkan siap merapat. Meski belum ada pernyataan resmi dari manajemen maupun pelatih, aroma ketidakpastian ini sudah cukup membuat suporter gelisah.

Dan kegelisahan itu bukan tanpa alasan.

Seorang anggota Persela Mania, Baidowi, mendesak Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, untuk tidak tinggal diam.

“Cepat bertindak jika isu soal pemain Persela hengkang ini benar. Bisa berabe,” ujarnya tegas, Sabtu (6/12) sore.

Desakan itu mencerminkan satu hal: suporter melihat situasi genting yang mungkin tidak sepenuhnya disadari pengambil kebijakan. Tanpa benteng pertahanan yang kuat—baik secara finansial, politik klub, maupun komunikasi internal—Persela bisa kehilangan pemain-pemain kunci yang selama ini menjadi tulang punggung performa tim.

Dan konsekuensinya tidak main-main.

Persela berpotensi kembali “gigit jari” dan gagal promosi ke Liga 1, sesuatu yang sudah lama ditunggu Lamongan. Bahkan, jika skenario terburuk terjadi, publik bisa saja kembali menyaksikan “hattrick” Persela bertahan di Liga 2 di bawah kepemimpinan daerah yang sama—sebuah catatan pahit yang semestinya tak terulang.

Padahal, momen sebenarnya sedang sangat mendukung. Performa Persela tengah menanjak, dukungan suporter solid, dan atmosfer kompetisi sedang menguntungkan. Yang dibutuhkan hanyalah sikap tegas, langkah cepat, dan komitmen mempertahankan fondasi tim.

Persela tidak butuh janji.
Persela butuh aksi—sebelum keretapi “gerbong pemain” benar-benar berangkat ke Semarang.(*)