
Lamongan, Pojok Kiri.com-Program Becak Lamongan Punya (Bela), yang diresmikan Pemerintah Kabupaten Lamongan pada 2008 sebagai simbol modernisasi transportasi rakyat, kini berada di ambang kepunahan.
Setelah 16 tahun berlalu, dari 50 unit armada awal yang menelan dana Rp 360 juta, kini hanya tersisa 24 unit yang masih bertahan di aspal Kota Soto.
Pantauan Pojok Kiri di pangkalan utama depan Pasar Baru Lamongan, Jalan KH. Hasyim Asy’ari, Kamis (29/1/2026), raut lesu nampak di wajah para pengemudi. Salah satunya Andik (49), warga Desa Made, yang mengaku masa keemasan “Bela” kini tinggal kenangan.
“Dulu tahun 2008, hasilnya sangat cukup untuk menafkahi keluarga. Sekarang? Boro-boro pak. Sampai pukul 11 siang ini saja, saya belum dapat satu pun penumpang,” keluh Andik dengan mata berkaca-kaca.
Andik mengungkapkan, pendapatan rata-ratanya kini hanya berkisar Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per hari, itu pun jika sedang beruntung.
Menjamurnya ojek online (ojol) dan kemudahan kredit motor bagi masyarakat menjadi faktor utama yang mematikan mata pencaharian mereka.
Senada dengan Andik, M. Wakid (47), pengemudi asal Sukodadi, menuturkan kegelisahan yang sama. Bekerja dari pukul 07.00 hingga 17.00 WIB, ia paling maksimal hanya mengantongi Rp 50.000.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Lamongan memberikan perhatian khusus, terutama terkait bantuan sosial (bansos) Pemerintah.
“Kami ini kategori warga tidak mampu, tapi sering terlewatkan saat ada bantuan. Harusnya pengemudi Bela didahulukan karena penghasilan kami sangat tidak menentu,” ujar Wakid.
Selain 24 becak motor (Bela), di lokasi tersebut juga masih terdapat 4 orang pengemudi becak kayuh tradisional yang kondisinya jauh lebih memprihatinkan.
Wakid mengaku siap meninggalkan pekerjaannya jika ada tawaran pekerjaan yang lebih layak, meski ia sadar usianya dan rekan-rekannya tak lagi muda.
“Ya Allah, semoga nasib anak-anak saya tidak seperti bapaknya. Semoga Allah mengangkat nasib mereka,” ucap Wakid sembari menengadahkan tangan ke langit, menutup pembicaraan.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah daerah. Akankah “Bela” dibiarkan hilang ditelan zaman, ataukah ada solusi konkret untuk kesejahteraan para pengemudinya di masa senja ini?(lut)
Editor: ZAINUL LUTFI
Sumber: WWW.POJOK KIRI.COM DAN KORAN HARIAN PAGI POJOK KIRI

