Pojokkiri.com

Anang Ashanty Tanam Sukun di Desa Trawas, Kadishut Jatim Survey Paralayang Desa Trawas

Anang Ashanty Tanam Sukun di Desa Trawas, Kadishut Jatim Survey Paralayang Desa Trawas
Kepala Desa Trawas saat mendampingi Kadishut Jatim meninjau Take Off Paralayang Desa Trawas

Mojokerto, Pojok Kiri – Desa Trawas mendadak ramai sejak Sabtu lalu.

 

Cangkul bersahutan. Tenda berdiri. Spanduk besar dibentang di pintu masuk Hutan Pringgodani.

 

Warga dikerahkan dua hari penuh. Capek? Iya. Tapi semangat.

 

“Persiapan mulai Sabtu-Minggu. Puncaknya Senin kemarin,” kata Kepala Desa Trawas, Wulyono, Senin (22/6/2026).

 

Senin itu, Hutan Pringgodani berubah wajah. Biasanya sepi, kali ini jadi panggung. Ada pejabat, ada artis, ada harapan warga.

 

Pejabat Turun, Artis Ikut Tandur

Yang datang bukan orang biasa.

 

*Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jatim* turun langsung. Dampingi *Kepala Adm Perhutani Malang*. Turut hadir *KCD Kehutanan Wilayah Nganjuk* yang membawahi 3 kabupaten.

 

Tapi yang bikin warga heboh: *Anang Hermansyah dan Ashanty*.

 

Pasangan selebriti itu tidak manggung. Mereka malah pegang sekop.

 

30 pohon sukun ditanam satu-satu di tanah Pringgodani. Anang sekop, Ashanty ratakan tanah. Keringat bercucuran.

 

Warga langsung ambil HP. Anak-anak kecil ikut nimbrung padatkan tanah di sekitar bibit.

 

“Alhamdulillah, terima kasih Mas Anang dan Bunda Ashanty sudah datang,” ucap Wulyono sumringah.

 

Kenapa sukun? Pohon ini cepat besar. Daunnya rindang. Buahnya bisa dimakan.

 

Di zaman perubahan iklim begini, 30 pohon mungkin sedikit. Tapi niatnya besar.

 

Paralayang Trawas Dilirik Lagi

Selesai tanam, rombongan jalan ke atas bukit.

 

Di situ ada *take off paralayang Desa Trawas*. Tempat ini sudah diresmikan Gubernur Jatim tahun 2020.

 

Sayang, 6 tahun berlalu perkembangannya lambat. Landasan ada, tapi fasilitas minim.

 

Senin kemarin jadi momen evaluasi. Kadishut Jatim lama berdiri di titik lepas landas. Menatap jauh ke arah Mojokerto. Angin menerpa wajah. Catatan kecil ia tulis di buku.

 

“Inti kunjungan ini melihat potensi pembuatan take off paralayang Trawas,” jelas Wulyono.

 

Pemprov lihat Trawas punya 2 modal: hutan pinus + ketinggian bukit.

 

Kalau dikelola, bisa jadi paket wisata unik. Wisatawan tanam pohon dulu, lalu terbang dari atas bukit.

 

Bayangkan: pagi tanam sukun, sore terbang lihat sunset Mojokerto.

 

Warga Tunggu Bukti Nyata

Kerja bakti Sabtu-Minggu memang bikin pegal. Tapi hasilnya langsung terasa Senin kemarin.

 

30 pohon sukun hari ini, 5 tahun lagi jadi pohon besar penahan angin. Kedatangan Anang-Ashanty juga bikin nama Trawas naik.

 

Warga sekitar mulai bertanya: kapan paralayang Trawas benar-benar hidup?

 

“2020 sudah dilaunching. 2026 disurvey lagi. Kami warga siap bantu. Tinggal Pemprov yang gerak,” ujar warga setempat yang ikut kerja bakti.

 

Wulyono tak banyak janji. Kalimatnya singkat: “Kami siap mendukung.”

 

Langit Trawas sore itu cerah. Anginnya kencang cukup untuk menguji arah. Belum cukup untuk terbang komersial.

 

Tapi cukup untuk mengingatkan semua: lepas landas besar selalu dimulai dari tanah yang digarap sungguh-sungguh.

 

Kini, tanah Trawas sudah digarap. Tinggal giliran sayapnya yang dibentangkan. (Jay/Adv)