Pojokkiri.com

Ironi Pendidikan Sampang: Diklaim Profesional, Tapi Sekolah Sepi Murid Masih Menjamur

Pojokkiri.com, – SAMPANG – Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kabupaten Sampang merilis data terbaru tahun ajaran 2025-2026. Sebanyak 21.920 peserta didik tercatat menempuh pendidikan di 173 sekolah (SMA, SMK, dan SLB) negeri maupun swasta, dengan sokongan 1.457 tenaga pendidik.

Meski di atas kertas angka-angka ini menunjukkan pertumbuhan, realitas di lapangan masih menyisakan pekerjaan rumah yang menumpuk terkait ketimpangan dan efisiensi.

Mas’udi Hadiwijaya Penuh Semangat menjelaskan, data SMA tercatat ada 10 Sekolah Negeri menampung 4.051 siswa, sementara 69 Sekolah Swasta hanya diisi 7.538 siswa.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Sampang, Mas’udi Hadiwijaya, mengakui adanya anomali dalam distribusi siswa. Minat masyarakat masih bertumpu kuat pada sekolah negeri, sementara puluhan sekolah swasta harus puas berbagi sisa kuota.

Berdasarkan data kuantitas sekolah dan siswa, nampak ada kesenjangan antara sekolah Negeri dan Swasta.

Mas’udi Hadiwijaya menjelaskan, data SMA tercatat ada 10 Sekolah Negeri menampung 4.051 siswa, sementara 69 Sekolah Swasta hanya diisi 7.538 siswa.

Sementara sekolah menengah kejuruan (SMK), tercatat ada 7 Sekolah Negeri dengan menyerap 2.566 siswa, berbanding terbalik dengan 85 SMK Swasta yang hanya menampung 7.667 siswa.

Artinya, bia dibagi rata setiap sekolah, jumal siswa rata-rata di SMK Negeri sebanyak 366,5 Siswa, sementara di SMK Swasta dengan rata-rata jumlah siswa setiap SMK hanya sebanyak 90,2 Siswa.

Rasio ini menunjukkan bahwa ruang kelas di puluhan sekolah swasta terancam kosong, karena minim peminat, yang berpotensi memicu pemborosan anggaran operasional dan sarana prasarana.

Disisi lain, Mas’udi menjamin bahwa mayoritas dari 523 guru negeri dan 934 guru swasta di Sampang telah mengantongi sertifikasi profesi. Sertifikasi ini diklaim menjadi garansi peningkatan mutu dan profesionalisme KBM (Kegiatan Belajar Mengajar).

Namun, profesionalisme guru saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan pemerataan. Pihak dinas tidak menampik bahwa ada wilayah tertentu yang jumlah siswanya sangat sedikit.

“Masih ada sekolah yang jumlah siswanya relatif sedikit. Hal seperti ini tentu menjadi bahan evaluasi agar layanan pendidikan tetap berjalan secara efektif dan efisien,” ujar Mas’udi.

Selain itu, akurasi data dapodik dan pelaporan dari satuan pendidikan kini berada di bawah radar pengawasan. Pihak dinas berjanji akan menindak tegas dan melakukan verifikasi lapangan jika ditemukan adanya manipulasi atau ketidaksesuaian data siswa demi mencairkan anggaran tertentu.

Tantangan besar bagi Pendidikan Sampang ke depan bukan lagi sekadar mencetak guru bersertifikat atau menambah ruang kelas baru, melainkan bagaimana melakukan redistribusi guru secara adil dan merestrukturisasi sekolah-sekolah sepi peminat agar hak pendidikan 21.920 anak di Sampang tidak berakhir sebagai komoditas angka statistik belaka.(Man/F-R)