Pojokkiri.com

Geram Impor Susu Hancurkan Peternak Lokal, Edi Paripurna: Impor Sapinya, Bukan Susunya!

Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur Eddy Paripurna

Surabaya, Pojok Kiri.Com,-Suhu politik agraris dan peternakan mendadak memanas di Jawa Timur.  Di tengah masifnya ketergantungan nasional pada produk susu impor yang kini telah menyentuh angka fantastis yakni 80 persen dari total kebutuhan nasional para peternak lokal menyuarakan satu seruan tegas: Hentikan ketergantungan produk jadi, datangkan sapi hidupnya!

 

​Tuntutan membahana ini mengemuka seiring sorotan tajam terhadap nasib peternak lokal yang selama ini kerap tergerus arus globalisasi dan membanjirnya susu luar negeri.

 

Pasuruan yang dikenal sebagai salah satu lumbung susu terbesar di Jawa Timur, mendesak agar arah kebijakan nasional bergeser dari sekadar mencukupi kuota impor susu menjadi penguatan kapasitas produksi dari hulu.

 

Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur Eddy Paripurna menilai bahwa sudah sejak lama jeritan peternak sapi perah di daerah dianaktirikan oleh kebijakan impor yang tidak berpihak pada kemandirian pangan nasional.

 

​”Ini alarm darurat bagi kedaulatan pangan kita! Ketika ketergantungan impor susu sudah mencapai 80 persen, itu artinya kita sedang menjajah peternak kita sendiri di rumah mereka sendiri. Kalau pemerintah mau serius mencapai swasembada, ubah paradigmanya: Impor sapinya, bukan susunya! Berikan amunisi hidup berupa sapi perah berkualitas kepada peternak lokal, biarkan mereka merawatnya, dan kita buktikan bahwa peternak kita bisa berjaya di negeri sendiri!” tegas politisi PDIP ini, Rabu (30/9/2026)

 

​Menurut mantan wabup Pasuruan ini, membanjiri pasar domestik dengan produk susu impor tanpa memperkuat populasi sapi di tingkat peternak rakyat sama saja dengan menggali kuburan bagi industri persusuan nasional.

 

Ia mendesak agar pemerintah pusat dan provinsi bersinergi menurunkan program nyata, mulai dari subsidi pengadaan sapi perah indukan unggul hingga jaminan kepastian pasar dan harga bagi peternak lokal.

 

Tak hanya itu, Kendati pemerintah pusat mengklaim tengah melirik sejumlah opsi negara sumber impor sapi perah mulai dari Australia, Chile, Uruguay, hingga penjajakan kerja sama dengan negara-negara Afrika para peternak di Pasuruan tetap memberikan catatan tebal: Ketersediaan pakan hijauan dan infrastruktur hulu harus diselesaikan bersamaan.

 

“Jangan sampai sapi impor datang, tapi peternak malah pusing tujuh keliling memikirkan biaya pakan yang mahal dan lahan hijauan yang semakin menyempit,” tutupnya.(Wan)