Pojokkiri.com

Gus Lilur Usulkan Kiai Said Aqil Siradj Sebagai Pimpinan Tertinggi PBNU Periode 2026-2031

Foto : Istimewa

Situbondo,pojokkiri.com
Pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 bisa dikatan sudah di depan mata dan santer menjadi buah bibir kalangan masyarakat. Pasalnya, pelaksanan tersebut akan digelar pada 1-5 Agustus 2026, wacana mengenai arah kepemimpinan organisasi juga mulai menghangat. Netra Bakti Indonesia (NBI) secara resmi mengusulkan komposisi kepengurusan PBNU periode 2026-2031 yang memadukan kiai berpengaruh dengan kalangan intelektual muda.

​Ketua Umum NBI, Khalilur R Abdullah Sahlawiy, menyatakan bahwa NU memerlukan formulasi kepemimpinan yang mampu menjembatani otoritas keulamaan dengan tantangan zaman yang semakin kompleks.

​”NU membutuhkan kombinasi kedalaman ilmu para kiai dan energi pembaruan dari generasi intelektual muda. Keduanya harus dipadukan agar NU tetap relevan menghadapi perubahan global,” ujar Gus Lilur, sapaan akrabnya dalam keterangan tertulisnya, Kamis (18/6/2026).

​Dalam usulan tersebut, ia menempatkan Prof. Dr. KHR. Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam, didampingi KH Afifuddin Muhajir dan KH Marzuki Mustamar sebagai Wakil Rais Aam. Untuk posisi Katib Aam, NBI mengusulkan KH Abdus Salam Shohib.

​Pada jajaran Tanfidziyah, NBI mengusulkan Prof. Dr. KH. Nazaruddin Umar sebagai Ketua Umum PBNU. Ia didampingi oleh Nusron Wahid serta Alissa Wahid sebagai Wakil Ketua Umum. Sementara posisi Sekretaris Jenderal diusulkan diisi oleh KH Yusuf Chudlori, dengan KH Imam Jazuli sebagai Bendahara Umum.

​Gus Lilur menegaskan, komposisi ini dirancang berdasarkan keseimbangan antara kapasitas keilmuan, pengalaman organisasi, serta kemampuan dalam membaca perubahan sosial. Menurutnya, NU kini menghadapi tantangan yang jauh berbeda, mulai dari dinamika teknologi hingga persoalan geopolitik global.

​”NU tidak cukup hanya menjaga tradisi. Organisasi ini harus mampu memimpin transformasi melalui kearifan ulama dan perspektif intelektual yang adaptif,” jelas Gus Lilur.

​Ia menambahkan, tokoh-tokoh yang diusulkan memiliki rekam jejak mumpuni untuk merepresentasikan otoritas keagamaan sekaligus kemampuan berdialog dengan masyarakat modern. Pihaknya berharap, Muktamar mendatang menjadi momentum krusial bagi NU untuk menentukan arah lima tahun ke depan.

​”Yang paling penting bukan siapa yang menang. Bagaimana NU tetap menjadi rumah besar umat Islam yang mampu melahirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa adalah prioritas utama,” tegasnya.

​Sementara itu, ia juga menyadari bahwa usulan ini merupakan bentuk kontribusi pemikiran NBI. Keputusan akhir mengenai kepengurusan PBNU tetap akan diserahkan sepenuhnya kepada para peserta muktamar melalui mekanisme organisasi yang berlaku. (Inul)