Pojokkiri.com

PDS Lamongan Redup: Dulu Berjaya hingga Naik Haji, Kini Tersisa 3 Kios dan Butuh Toilet

 

Mbah Supi’i di kios sepeda bekasnya di Pasar PDS Jl Jagalan Kelurahan Sukorejo, Kecamatan/Kabupaten Lamongan.(Foto: Zainul Lutfi For Pojok Kiri)

Lamongan, Pojokkiri.com-Pasar Dagang Sepeda (PDS) Lamongan di Jalan Jagalan, Kelurahan Sukorejo, kini kondisinya hidup segan mati tak mau. Pasar sepeda onthel legendaris di Kota Soto ini telah kehilangan masa kejayaannya dan berjalan terseok-seok di tengah gempuran zaman.

Flashback ke tahun 1997, pasar dekat sungai ini menjadi pusat ekonomi yang sangat bergairah. Kala itu, terdapat 48 kios yang aktif melayani pembeli sepeda onthel.

Namun pantauan di lokasi pada akhir Juli 2026, kondisi tersebut berubah drastis. Hanya tersisa tiga kios saja yang bertahan menjual sepeda bekas.

Mbah Supi’i (76), salah satu pedagang yang bertahan, menceritakan kisah manis getirnya meniti usaha di PDS Lamongan. Pria asal Dusun Keset, Desa Sidorejo, Kecamatan Deket ini masih ingat betul masa-masa emas pasar tersebut.

“Masa keemasan PDS Lamongan itu tahun 1997. Di tahun itu ada 48 kios pedagang sepeda bekas,” ujar Mbah Supi’i dengan suara lantang, Senin (27/7).

Pada era kejayaannya, seorang pedagang mampu menjual 4 hingga 7 unit sepeda per hari. Keuntungan yang didapat pun sangat menggiurkan. Bahkan, hasil dari jualan sepeda onthel saat itu mampu memberangkatkan pemilik kios pergi naik haji.

Roda nasib berputar. Mbah Supi’i mengungkapkan bahwa kemerosotan bisnis sepeda bekas ini mulai terasa sejak 15 tahun lalu. Pemicu utamanya adalah maraknya sistem kredit sepeda motor yang murah dan mudah.

Alhasil, semua lapisan masyarakat beralih menggunakan sepeda motor sebagai moda transportasi utama. “Ini masa-masa suramnya bisnis sepeda bekas di PDS Lamongan,” keluhnya.

Kini, dari puluhan pedagang, hanya tersisa tiga orang saja yang masih bertahan mengadu nasib di sana. Mereka adalah Mbah Supi’i sendiri, Mbah Giono, dan H. Puan.

Terkait regenerasi, Mbah Supi’i mengaku pesimistis. Anak muda zaman sekarang dinilai sama sekali tidak tertarik untuk meneruskan bisnis sepeda onthel bekas. Mereka lebih memilih bisnis lain yang sedang tren dan menjanjikan keuntungan instan yang lebih besar.

Di tengah kondisi yang kian sulit, para pedagang mengaku belum pernah tersentuh bantuan dari pemerintah daerah. Mereka bertahan secara mandiri demi menyambung hidup.

“Belum ada bantuan dari pemerintah mas. Usaha ini saya jalankan bersama teman-teman tanpa bantuan pemerintah,” jelas Supi’i.

Selain masalah sepinya pembeli, fasilitas penunjang di pasar ini juga sangat memprihatinkan. Hingga saat ini, Pasar PDS belum memiliki fasilitas toilet umum (ponten).

Setiap kali pedagang atau pengunjung ingin buang air, mereka terpaksa harus berjalan jauh menuju ponten di Pasar Tingkat Lamongan. Mbah Supi’i sangat berharap pemerintah mau turun tangan, minimal membangun fasilitas MCK di area pasar.

Harapan ini dinilai sangat mendesak. Sebab, area pasar tersebut kini tidak hanya dihuni oleh 3 kios sepeda bekas, melainkan juga ada 4 warung kopi serta beberapa kios usaha lain yang sangat membutuhkan fasilitas sanitasi yang layak.(lut)

Editor: Zainul Lutfi