
Gresij, pojokkiri.com
Kejadian penghentian kegiatan ibadah jemaat Kristiani GPIB Benowo Surabaya yang dilakukan oleh sejumlah orang pasutri Yoyok dan Yayik bersama satu orang laki – laki pada hari rabu tanggal 8 Mei 2024 sekira pukul 19.00 wib bertempat rumah kediaman Hormali Sirait (Manurung) di Perum. Cerme Indah RT. 03/ 11 Desa Betiting Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik. Yang sempat viral membuat Kepala Sekolah (Kepsek) SMA Negeri 1 Cerme Indah Nusa Rini kaget.
Untuk kondusifnya sekolahan, dan biar masyarakat itu tidak mengecap SMAN 1 Cerme. Untuk sementara Bu Yayik di rumahkan. Sampai menunggu betul betul keadaan ini kondusif,” Kata Indah saat di konfirmasi di ruang kerjanya Senin (13/5/2024).
Sebetulnya kami tidak mengetahui hal itu, namun setelah viral baru mengetahui sebab itu diluar dari kedinasan. Jelas Indah.
Jujur lanjut Indah, sungguh dampaknya sangat luar biasa untuk SMA Negeri 1 Cerme, bahwa di kira sekolah kami tidak kondusif.
Tapi anehnya menurut beliaunya hal seperti itu biasa, tapi menurut kami tidak biasa dampaknya sangat luar biasa terhadap kegiatan belajar mengajar di SMAN 1 Cerme. Terangnya.
Ketika di konfirmasi lebih jauh terkait Yayik berstatus sebagai guru apa di sekolah, Indah menyebut bahwa Yayik adalah TU di sekolah. ” Jadi kita tegaskan beliaunya bukan guru,” Tegasnya.
Indah mengaku, terkait perilaku Yayik tersebut, Indah mengaku kalau Yayik berkelakuan bagus, tapi kalau melihat video kemarin saya juga kaget saja, kok sampai seperti itu.
Dalam permasalahan kemarin, Indah mengaku bahwasahnya sudah melakukan pembinaan. Pembinaan ini bahkan secara lisan dan secara tertulis. Dan pembinaan juga tidak hanya dari saya saja tapi juga dari Pak Kacab, yang mana kemarin saat viral itu Pak Kacab sudah berlangsung pembinaan dan tadi pagi itu pembinaan secara tertulis. Terangnya.
Tempat terpisah Yayik, warga yang disebut membubarkan peribadatan umat kristen membantah jika kejadian itu mengganggu. “Saya memohon maaf jika memang itu disebut membubarkan ibadah,” terangnya.
Meski sempat ada perselisihan, dia mengungkapkan kejadian tersebut dipicu karena mobil yang diparkir di rumahnya terganggu karena ada tetangga yang ibadah.
“Itu karena mobil saya mau keluar dari parkiran tidak bisa, dan terhalang para jemaat yang sedang ibadah,” ungkapnya menanggapi soal kasus pembubaran ibadah umat kristen di Gresik.
Ketua Badan Musyawarah Antar Gereja (Bamag) Gresik, Pdt Royke David menyampaikan jika video viral yang menghentikan umat kristen berdoa sangat disayangkan.
“Apalagi, Pak Bupati sering berpesan ke kami untuk menjaga keberagaman dan toleransi,” ujarnya.
Menurut Royke, aksi yang dilakukan oknum warga tersebut masuk ke dalam kategori sangat menggangu, apalagi saat itu jemaat sedang menjalani doa.
Meski melukai umat, secara kelembagaan Bamag Gresik memaafkan dan tak akan melaporkan ke pihak kepolisian. Hal ini untuk menghindari perpecahan.
“Kami tak akan melaporkan kejadian ini ke Polres Gresik, tapi kan ini video yang tersebar sangat viral, ada jutaan penonton, sehingga kami juga tidak tahu kedepan seperti apa karena konten videonya demikian,” ujarnya.
Kepala Desa Betiting Cerme, Musoli mengatakan jika permasalahan tersebut merupakan kesalahpahaman antar warga. Namun, kejadian itu sudah dimediasi oleh pihak terkait.
Warga yang membubarkan, kata Musoli sudah meminta maaf dengan dihadiri pertemuan antara Forkopimcam Cerme.
“Sudah kami mediasi, sudah ada kesepakatan damai, kami berupaya memberikan rasa aman nyaman dengan kegiatan umat kristen,” katanya, Senin (13/5/2024).
Musoli berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran sehingga meningkatkan kerukunan antar umat beragama. Hal ini penting karena agama warga beragam.
“Karena memang beragam, kami juga berharap ini menjadi pembelajaran bersama sehingga tak terulang lagi kejadian seperti ini,” ungkapnya. (Dyo)

