Pojokkiri.com

Cukai Naik, Pengangguran Bertambah , Politisi Demokrat Khawatirkan Kelangsungan Industri Rokok

Anggota komisi B DPRD Jawa Timur Agusdono Wibawanto

Surabaya, Pojok Kiri.-Ancaman peningkatan jumlah pengangguran di Indonesia akan bertambah ada di depan mata, dimana jika pemerintah nekat menaikkan cukai rokok pada tahun 2025 mendatang.

Anggota komisi B DPRD Jawa Timur Agusdono Wibawanto mengatakan, jika pemerintah nekat untuk memberlakukan kenaikan cukai di tahun 2025, tentunya akan mengganggu keberlanjutan Industri Hasil Tembakau (IHT), rencana tersebut juga berpotensi memiliki dampak terhadap keberlangsungan terhadap nasib jutaan pekerja di sektor ini.

“Kondisi ekonomi Indonesia khususnya di dunia rokok dan tembakau sedang tidak baik-baik saja. Hal ini dikarenakan industri tembakau, masih terkena dampak kenaikan cukai tahun 2022 yang dilanjutkan dengan kebijakan kenaikan cukai tahun 2023-2024, ” jelas politisi Demokrat ini, Rabu (15/5/2024)..

Pria asal Malang ini mengatakan harusnya pemerintah memberikan dukungan yang lebih signifikan agar industri SKT (Sigaret Kretek Tangan) mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak lagi.

“Tentunya dengan begitu akan memberikan dampak positif terhadap pendapatan negara,” katanya.

Dijelaskan oleh pria yang bergelar doktor ini,pengurangan cukai bagi SKT dapat memberikan kelegaan bagi pelaku industri agar dapat lebih mengembangkan dan berinvestasi di sektor ini. Sehingga, ia meminta pemerintah untuk kembali mengkaji lebih dalam dampak dari kebijakan tarif cukai SKT.

Pemerintah, sambung pria yang akrab dipanggil Gus Don, harus membuat keputusan berdasarkan pertimbangan yang matang terhadap semua dampak yang dapat terjadi, baik itu untuk industri atau pekerjanya. Jangan hanya satu variabel saja.

“Jadi, kalau bisa naik 0 persen saja,” tegasnya.

Sekedar diketahui,Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat hingga Agustus 2023 terdapat 7,86 juta orang pengangguran. Angka ini belum termasuk setengah pengangguran (jam kerja kurang dari 35 jam seminggu) yang jumlahnya mencapai 9,34 juta orang.

Sedangkan selama ini SKT merupakan segmen industri padat karya yang dihuni oleh para pekerja pelinting yang notabene memiliki tingkat pendidikan rendah. Masyarakat dengan tingkat pendidikan dan keterampilan rendah adalah kelompok yang paling rentan menjadi pengangguran jika terjadi gangguan pada industri tempat mereka bekerja.(wan)