Pojokkiri.com

Demo Temen, Demo Teman

 

Oleh Robai Hamid Putu Salam

 

Demo, demo teman demo temenan. Atau demo adegan. Di dunia film, banyak adegan demo yang ditampilkan. Ada yang fiksi, ada yang mengangkat kisah nyata.

Di Indonesia, ada Aum, Gie dan Di Balik 98 mengangkat kisah aktivisme dan reformasi. Sementara di dunia internasional, ada The Battle of Algiers, kisah perjuangan rakyat Aljazair melawan Perancis, Selma, dan The Trial of the Chicago 7 menampilkan perjuangan hak sipil dan perubahan politik.

Belakangan ini, di negeri kita, di beberapa kota, juga banyak demo. Ada yang sangat serius dan ada korban jiwa, dan harta. Bahkan ada yang kehilangan jabatan karenanya.

Ada juga, yang demo kecil kecilan. Tapi pengawalan tetap besar besaran. Sound yang dipakai juga besar dan setelah itu bubar.

Saudara, dalam dunia perdemoan, ada demo teman, ada demo temenan. Maksudnya, ada teman mendemo teman yang disuruh oleh teman. Tapi teriakan yang disampaikan juga seperti demo temenan.

Dalam kondisi ini, peserta demo yang aseli akan aman aman saja. Tapi jika sudah kemasukan orang lain, dan orang lain bisa saja diskenario oleh teman, maka bisa saja akan terjadi sesuatu. Dan inilah yang biasanya terjadi sesuatu di luar kendali.

Pun demikian, hal itu juga sudah dalam skenario dan sudah diantisipasi. Maka, peserta yang sungguhan sudah tidak ada di lokasi.

Tapi, dalam hal hal tertentu, ada demo yang memang diciptakan untuk mengangkat citra. Dia yang memulai, dia yang mengakhiri. Happy ending dan akhirnya namanya terangkat. Bisa juga, jika di luar skenario, maka ending yang terjadi adalah sebaliknya.

Ada juga, demo pesanan dari lawan. Endingnya, lawan itu jatuh. Pelaku demo adalah orang yang sudah terbiasa dengan pemahaman akar masalah. Masalah yang memang masalah.

Seperti demo belakangan ini, memang di negeri ini sedang ada masalah. Betapa tidak, negeri yang merayakan kemerdekaan ke 80, kok malah banyak utang. Utang makin naik. Untuk menutupi itu, pungutan terhadap rakyat juga naik.

Dan parahnya lagi, pungutan rakyat itu banyak yang digunakan untuk memanjakan pengelola negara. Mereka dimanjakan dengan berbagai tunjangan dan penghasilan yang melimpah.

Apalagi, mereka juga membuat komentar yang menantang. Rakyat Indonesia itu nurutan. Tapi ketika dilukai, maka catu itu membuat mereka bangkit. Dan ketika rakyat bangkit, penguasa bilang ada provokator. Provokator asing dan lain lain.

Padahal, provokator sesungguhnya adalah kebijakan yang melukai rakyat. Komentar yang melukai rakyat itulah bentuk provokasi yang tidak disadari. Provokator teriak provokator. Itu cara untuk menutupi kedoknya. Maling yang teriak maling, juga untuk menutupi kedoknya.

Dan, kadang yang berjubah juga, untuk menutupi kepalanya. Ah