Pojokkiri.com

Depresi Penyakit Tak Kunjung Sembuh, Lansia di Modo Gantung Diri

 

Jasad DS yang gantung diri dirumah duka.(Pojok Kiri/istimewa)

Lamongan, Pojok Kiri.com- Seorang pria lanjut usia (lansia) di Lamongan, Jawa Timur ditemukan tewas gantung diri. Korban nekat mengakhiri diri karena diduga tak kuat dengan sakit yang dideritanya.

Korban adalah DS (63) warga Kecamatan Modo. Korban pertama kali ditemukan tewas tergantung dengan tali tampar plastik di blandar kayu rumahnya oleh istrinya.

Kapolsek Modo, AKP Anang Purwo Widodo menuturkan saat pertama kali ditemukan istrinya langsung berteriak minta tolong. Teriakan itu kemudian membuat para tetangganya berdatangan.

“Istrinya itu baru pulang dari sawah menuju rumahnya. Setelah masuk rumah, si istri melihat tubuh suaminya telah tergantung di kayu blandar rumah dengan tali tampar plastik. Si istri berteriak-teriak, para tetangga datang dengan membantu memotong tali tampar yang terlilit pada leher korban dengan sabit,”kata Anang Purwo Widodo, Selasa (18/2/2025).

Peristiwa itu, lanjut Anang Purwo Widodo, kemudian dilaporkan ke Polsek Modo. Tak lama petugas dari polsek dan puskesmas setempat langsung menuju lokasi. Dari hasil pemeriksaan, tak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada bagian tubuh korban.

Polisi kemudian menyimpulkan korban tewas karena murni bunuh diri. Ini didasarkan pada luka jeratan tali di bagian leher korban.

“Hasil pemeriksaan medis, korban meninggal murni karena jeratan di bagian leher karena gantung diri. Kami juga tidak menemukan benda lain di sekitarnya yang berpotensi melukai atau mengakibatkan nyawa korban hilang,” ungkap Anang.

Selain memeriksa jenazah korban, lanjut Anang, sejumlah saksi juga turut diperiksa terkait peristiwa ini. Dari keterangan saksi, diketahui korban selama ini menderita sakit di bagian lambung.

Saksi menyebut korban semasa hidup menderita sakit lambung akut. Berbagai upaya pengobatan bahkan telah dilakukan. Namun sakit yang diderita korban tak kunjung sembuh sehingga memilih nekat gantung diri.

“Dari keterangan para saksi, kami menduga korban depresi karena tidak kuat menahan sakitnya itu. Keluarga menolak jasadnya diautopsi, sehingga mereka membuat surat pernyataan di depan pamong desa,” pungkas Anang.(lut)