Pojokkiri.com

Pasokan Sering Terlambat, Harga Jangrik di PB Lamongan Melambung

Jangrik yang dijual Afandi di Pasar Burung Jalan Kusuma Bangsa Lamongan.(Foto: Zainul Lutfi/Pojok Kiri.com)

Lamongan, Pojok Kiri.com- Para penggemar burung kicauan di Kota Soto Lamongan kini dilanda resah. Pasalnya, jangkrik menjadi extra fooding (EF) wajib bagi sebagian besar burung berkicau, baik burung rumahan, burung lomba, maupun burung-burung penangkaran, mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Melambungnya harga jangkrik diperkirakan akibat keterlambatan pemasok dalam mengirim barang hidup ini ke toko atau kios pakan burung. Akibatnya, harga mengalami kenaikan 30 -40 persen dari harga semula.

Afandi (37), penjual jangkrik di Pasar Burung Kusuma Bangsa Lamongan, mengungkapkan harga jangkrik terus mengalami kenaikan setiap harinya. Sebelumnya, dia menjual jangkrik kepada pembeli sekitar Rp 60 ribu per kilogram. Kini, harganya sudah melambung menjadi Rp 100 ribu kg.

“Kenaikan harga memang dikeluhkan para pembeli. Biasanya mereka membeli per ons (0,1 kg, atau 100 gram). Kini, setelah harga merangkak naik, mereka hanya membeli separonya saja,” ucapnya.

Hal senada dibenarkan Herlin Utami, pemilik kios pakan burung di kawasan Tambakboyo Lamongan. Menurut dia, harga jangkrik mengalami kenaikan drastis. “Pasokan jangkrik ke kios kami sering terlambat. Ini yang membuat harga terus mengalami kenaikan,” tuturnya.

Kenaikan sudah mulai terjadi sejak tiga minggu lalu, dan berlanjut hingga sekarang. “Semoga harga bisa turun kembali. Soalnya saya sering dikomplain pembeli,” tambah perempuan yang juga menjual aneka burung dan pakan ini.

Bagaimana dengan harga EF lain seperti ulat hongkong dan ulat kandang? Herlin Utami menjawab, harga kedua EF ini masih cenderung stabil, dan semoga tidak ikut-ikutan naik.

Kenaikan harga jangkrik ini jelas membuat kelabakan sejumlah kicaumania, terutama yang memiliki bujet terbatas untuk membeli EF bagi burung-burung piaraannya. Kenaikan harga ini memberatkan mereka, apalagi yang memiliki koleksi burung lebih dari lima ekor.

Zainul Lutfi (50), misalnya, kini mengoleksi 10 ekor burung ocehan, yang semuanya rutin diberi jangkrik setiap hari. Kenaikan harga jangkrik sangat dirasakannya. “Kalau beberapa minggu lalu, bawa enam ribu rupiah bisa untuk membeli 1 ons jangkrik, kini harus merogoh uang sepuluh ribu,” tuturnya.

Akibatnya, dia harus mengurangi jatah jangkrik untuk jenis burung tertentu. Setelan berubah bukan karena ingin memperbaiki performa suaranya, melainkan karena kondisi keterpaksaan akibat harga jangkrik yang melambung.

“Jadi, ada beberapa jenis burung tertentu yang porsi jangkriknya terpaksa dipangkas. Yang lain tetap sama, karena takut nggak mau bunyi,” tutur Zainul Lutfi. (lut)