
Oleh : Roba’i Hamid Putu Salam
Megawati Hangestri Pertiwi. Dia wanita hebat dari bumi pertiwi. Pevoli putri asal Jember ini, barangkali sekarang adalah wanita hebat yang ada di Indonesia. Saat main di Red Sparks Korea, harta tidak membuatnya iman goyah. Pemain berjuluk Megatron itu selalu berdoa dan bersholawat setiap kali mau main. Dia juga berdoa tiap kali mau minum. Dan hebatnya lagi, dia minum selalu dalam posisi duduk dulu di pinggir lapangan. Tidak sambil berdiri dan tangan kiri. Dia minum dengan tangan kanan dan tak lupa baca doa yang dilafalkan. Sampai teman temannya Korea itu tanya, kau baca apa. Dan dia pun menjelaskannya. Dia berdakwa dalam bola. Dia satu satunya pemain berjilbab yang dihormati. Karena permainanya yang ciamik dan sikapnya sebagai wanita muslim yang tidak goyah. Yang menjaga identitas. Yang tidak goyah ketika kumpul di mana pun. Mutiara tetap mutiara walau kumpul dengan debu. Bukan karena terpilih jadi pengibar bendera saja jilbabnya sudah dilepas. Katanya itu perintah.
Sekarang, Megatron, pevoli yang berposisi sebagai opposite hitter itu, main di Manisa BBSKTurki. Klub barunya yang liganya akan mulai awal Oktober nanti. Hampir sama dengan moto GP Mandalika Lombok. Kemarin moto GP masih di Hongaria. Di klub barunya, Manisa bbsk Turki, Megawati sudah diperkenalkan ke publik. Disambut dengan upacara klub. Dan dia tetap berjilbab. Dia pegang prinsip. Padahal semua pevoli putri Turki, kostumnya minim. Dia Mega yang tangguh. Bukan mega yang cengeng dan cengengesan. Dia satu satunya atlet voli yang berjilbab di negeri yang mayoritas muslim tapi pernah sekuler itu. Megawati Hangestri Pertiwi, satu wanita Indonesia bisa mempengaruhi ibu negara Turki. Bukan manusia yang begitu mudah menggadaikan idealismenya. Hanya karena iming iming harta secuil saja, sudah menggadaikan dirinya. Memuja Muja orang yang memberinya cuilan kue itu, lalu lupa rumah besarnya yang membesarkannya. Indonesia butuh manusia seperti Megawati Hangestri Pertiwi. Dia berlaga dan berdakwa, memberi manfaat di negara yang didatanginya. Dan tetap ingat kampungnya. Dia bangun masjid besar hasil kehebatannya. Bukan hasil proposal yang dipotong komisinya. Dia tak pakai rujukan kitab. Tapi dia mengamalkan isi kitab. Dia tidak bicara Pancasila dan UUD. Tapi dia mengamalkan dan memberi contoh. Tapi kita sulit mencontohnya. Orang Indonesia banyak yang hebat di luar negeri. Tapi sulit maju di negeri sendiri. Mega ingin maju tanpa membebani negara. Bukan seperti sepak bola, kepingin lolos piala dunia lalu menyingkirkan orang pribumi. Lebih dari sebelas orang asing ada di timnas. Bilangnya sudah naturalisasi. Seluruhnya asing. Jangan jangan, nanti presiden, DPR jaksa hakim, menteri, wasit, pengusaha, juga naturalisasi. Atau bumi juga dinaturalisasi. Lalu kita jadi apa? Kita tinggal di mana? Ah….

