
Lamongan, Pojokkiri.com-Bagi Anda yang merindukan cita rasa buah masa kecil, Wisata Kebun Juwet Lopang di Desa Lopang, Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, menjadi destinasi yang wajib dikunjungi.
Wisata petik buah musiman yang legendaris ini menawarkan pengalaman unik bagi para pengunjung untuk mencicipi buah juwet, atau yang akrab dikenal sebagai duwet dan jamblang, langsung dari pohonnya yang berada di tengah hamparan area persawahan yang asri.
Daya tarik utama dari kebun buah ini adalah keberadaan puluhan pohon juwet yang telah tumbuh kokoh selama puluhan tahun, bahkan beberapa di antaranya telah mencapai usia 50 tahun. Pengunjung yang datang dapat merasakan langsung sensasi memetik buah langka ini dan menikmati perpaduan rasanya yang sangat khas, yaitu manis, asam, dengan sedikit rasa sepat yang menyegarkan.

Karena sifatnya yang musiman, destinasi tersembunyi ini hanya beroperasi selama musim kemarau, terutama pada masa puncak panen sekitar Oktober hingga November dengan jam operasional mulai pukul 07.00 hingga 17.00 WIB.
Keunikan buah lokal yang mulai langka ini sukses menarik perhatian luas dari berbagai daerah. Pemilik kebun Juwet Lopang, Rokimah, kepada Wartawan POJOK KIRI mengungkapkan bahwa sebagian besar pengunjung didominasi oleh kalangan ibu-ibu yang datang demi membangkitkan kenangan masa lalu dan bernostalgia rasa. Ia juga menambahkan bahwa kelestarian tanaman juwet ini menjadi kebanggaan tersendiri karena di seluruh wilayah Lamongan, pohon juwet dalam jumlah besar seperti ini hanya dapat ditemui di Desa Lopang, Kecamatan Kembangbahu.

Rokimah menambahkan, daya tarik nostalgia ini tidak hanya memikat warga lokal Lamongan saja, melainkan juga mengundang kedatangan wisatawan dari luar daerah seperti Gresik, Mojokerto, hingga Surabaya. Untuk menikmati kesegaran buah legendaris ini, Rokimah menawarkan harga yang sangat terjangkau bagi para pelancong, mulai dari sepuluh ribu rupiah untuk porsi mangkuk, dua puluh ribu rupiah untuk wadah atau keranjang kecil, hingga paket keranjang besar seharga lima puluh ribu rupiah.(lut)
Editor: Zainul Lutfi

