Pojokkiri.com

Gus An’im: Guru Agama Tak Bisa Digantikan Google dan AI, Kuncinya Adab

KEDIRI, pojokkiri.com— Google bisa menjawab pertanyaan. Kecerdasan buatan (AI) bisa menyusun pengetahuan. Namun, keduanya tak bisa menggantikan guru dalam menanamkan adab, membentuk akhlak, dan menumbuhkan ketakwaan. Di tengah ekspansi teknologi digital, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) justru dituntut memperkuat peran yang tak dapat diambil alih mesin.

Pesan itu disampaikan Anggota Komisi VIII DPR RI, K.H. An’im Falachuddin Mahrus atau Gus An’im, saat menghadiri Workshop Peningkatan Kompetensi dan Profesionalisme Guru PAI di Gedung Serbaguna Al Ikhlas, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kediri, Jumat (16/10/2026).

Di hadapan ratusan guru PAI, Gus An’im mengingatkan agar para pendidik tidak kehilangan kebanggaan terhadap profesinya hanya karena muncul pekerjaan lain yang dinilai lebih menjanjikan secara ekonomi.

“Jangan kemudian kita goyah karena ada hal-hal lain yang lebih menjanjikan. Profesi seorang guru, apalagi guru agama Islam, adalah profesi yang luar biasa mulia,” kata pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo tersebut.

Menurut Gus An’im, tantangan pendidikan di era digital bukan semata-mata bagaimana guru menyampaikan materi pelajaran. Informasi dan jawaban akademis kini dapat diperoleh dengan mudah melalui mesin pencari maupun teknologi AI. Jika peran guru berhenti pada penyampaian pengetahuan, profesi itu akan menghadapi persaingan yang semakin berat.

Ia mengutip pemikiran gurunya, Syaikh Maimoen Zubair atau Mbah Moen, untuk menegaskan pentingnya pendidikan karakter di tengah kemajuan teknologi.

“Kalau guru hanya sekadar transfer knowledge (pengetahuan), maka akan ada masanya guru tidak lagi dibutuhkan karena Google jauh lebih cerdas. Tapi kalau guru mentransfer adab, ketakwaan, keikhlasan, dan memberi teladan nyata, itulah esensi pendidikan yang sejati,” ujarnya.

Bagi Gus An’im, teknologi boleh berkembang dan metode pembelajaran boleh berubah. Namun, keteladanan seorang guru tetap menjadi unsur penting dalam membentuk kepribadian peserta didik. Guru agama tidak cukup hanya menguasai materi, tetapi juga harus mampu menghadirkan nilai-nilai yang diajarkannya dalam perilaku sehari-hari.

Di tengah tuntutan peningkatan profesionalisme tersebut, persoalan kualifikasi dan kesejahteraan guru PAI di Kabupaten Kediri masih menjadi pekerjaan rumah.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kediri, Achmad Fa’iz, mengatakan wilayahnya memiliki sekitar 1.106 guru PAI. Dari jumlah itu, sebanyak 905 guru telah menyelesaikan Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan memperoleh sertifikasi. Sementara itu, sekitar 201 guru lainnya masih menunggu kesempatan mengikuti program tersebut.

Fa’iz mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Kediri yang tahun ini mengalokasikan anggaran PPG bagi 48 guru PAI. Ia berharap tambahan kuota dari pemerintah pusat dapat segera direalisasikan agar lebih banyak guru memperoleh sertifikasi dan hak kesejahteraan sesuai ketentuan.

Persoalan sertifikasi menjadi penting karena peningkatan kompetensi guru semestinya berjalan beriringan dengan upaya memperbaiki kesejahteraan mereka. Tuntutan agar guru terus meningkatkan kualitas pembelajaran perlu ditopang akses pendidikan profesi dan kebijakan yang memadai.

Peningkatan kompetensi juga diarahkan pada penguatan kualifikasi akademik. Dalam workshop tersebut, perwakilan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dan UIN Syekh Wasil Kediri menawarkan jalur pendidikan lanjutan melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dan kelas pascasarjana dengan skema yang lebih fleksibel.

Program tersebut diharapkan membuka kesempatan bagi guru PAI untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang magister tanpa harus meninggalkan tugas mengajar.

Tantangan guru agama kini tidak hanya berkaitan dengan penguasaan teknologi dan metode pembelajaran modern. Mereka juga menghadapi tuntutan untuk menjaga kualitas moral pendidikan, meningkatkan kualifikasi akademik, serta memperoleh kesejahteraan yang layak.

Di tengah kemudahan teknologi menghasilkan jawaban, pesan Gus An’im menempatkan guru pada peran yang lebih mendasar: bukan sekadar membuat murid mengetahui sesuatu, melainkan membimbing mereka memahami nilai, membangun karakter, dan mempraktikkan kebaikan. (ade/wan)