
Surabaya Pojokkiri.com – RSUD Husada Prima terus berinovasi dalam meningkatkan layanan kesehatan bagi masyarakat, khususnya bagi pasien BPJS. PLT Direktur RSUD Husada Prima, drg. Sulvy Dwi Anggraini, M.Kes, menegaskan bahwa rumah sakit ini tidak hanya fokus pada pelayanan kuratif tetapi juga memperkuat upaya preventif dan promotif guna menciptakan sistem kesehatan yang lebih berkelanjutan.
Sebagai rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang berlokasi di Surabaya Utara, RSHP Husada Prima memiliki segmen pasien yang mayoritas menggunakan BPJS. Menurut drg. Sulvy, sekitar 95% pasien di rumah sakit ini merupakan peserta BPJS, sehingga penting bagi masyarakat untuk memastikan status kepesertaan mereka aktif sebelum berobat.
“Kami berharap masyarakat yang datang ke sini sudah memiliki BPJS yang aktif, sehingga tidak mengalami kendala administrasi dalam menerima layanan kesehatan,” tutur drg. Sulvy, pada Selasa (11/03/2025).
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam membayar iuran BPJS secara rutin agar sistem jaminan kesehatan tetap berjalan dengan baik.
RSUD Husada Prima melihat bahwa tren kunjungan pasien dan perawatan terus meningkat, namun pendapatan rumah sakit tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah pasien. Hal ini disebabkan oleh sistem verifikasi BPJS yang menentukan layanan mana yang dapat diklaim. Oleh karena itu, rumah sakit ini mulai mengalihkan fokus tidak hanya pada pengobatan tetapi juga pada pencegahan penyakit.
“Saat ini, kami tidak bisa hanya mengandalkan pelayanan kuratif. Jika masyarakat lebih sadar akan pola hidup sehat, maka angka penyakit dapat ditekan. Ini merupakan investasi jangka panjang bagi kesehatan masyarakat,” jelas drg. Sulvy.
Edukasi mengenai pola hidup sehat seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan, dan pola makan sehat menjadi bagian penting dalam strategi ini.

Untuk meningkatkan efisiensi pelayanan, RSUD Husada Prima juga mendorong pasien untuk menggunakan sistem pendaftaran online agar mengurangi antrean di rumah sakit. Namun, masih banyak masyarakat yang lebih memilih untuk langsung datang dan mendaftar di tempat.
“BPJS sebenarnya merekomendasikan agar semua pendaftaran dilakukan secara online untuk mengurangi antrean. Namun, masih banyak masyarakat yang datang langsung tanpa mendaftar terlebih dahulu,” ungkap drg. Sulvy.
Selain itu, banyak pasien yang belum memahami bahwa beberapa jenis penyakit sebenarnya bisa ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas. Kesalahpahaman ini sering kali menimbulkan keluhan ketika pasien tidak mendapatkan layanan rumah sakit yang diharapkan karena prosedur rujukan yang berlaku.
Melalui forum konsultasi publik yang digelar, RSUD Husada Prima berharap dapat menyamakan pemahaman antara masyarakat, tenaga medis, dan pemangku kepentingan lainnya dalam memberikan layanan kesehatan terbaik.
“Jika masyarakat memahami prosedur BPJS dan peran masing-masing fasilitas kesehatan, maka pelayanan akan lebih optimal dan minim keluhan,” pungkas drg. Sulvy.
Ke depan, RSUD Husada Prima akan terus berbenah dan mengembangkan layanan unggulan, termasuk layanan spesialistik diantaranya adalah kesehatan jiwa, tumbuh kembang dan pemeriksaan CT Scan.
Dengan peningkatan layanan ini, RSUD Husada Prima berharap dapat menjadi rumah sakit rujukan yang tidak hanya mengandalkan pengobatan tetapi juga memperkuat aspek pencegahan dan edukasi kesehatan masyarakat.
Melalui forum konsultasi publik, seluruh saran dan masukan dari berbagai pemangku kepentingan diharapkan mampu mendukung pelayanan kesehatan di RSUD Husada Prima, sehingga mampu menjawab tantangan terutama terkait dengan antrian online untuk pasien BPJS.(Sam)

