Pojokkiri.com

KH. Mastur Asnawi, Ulama Kharismatik dan Tokoh Sentral Keagamaan Lamongan

 

Makam KH Mastur Asnawi berdampingan dengaan K.Machmud di dalam komplek Masjid Agung Lamongan.(Foto: Pojok Kiri/Zainul Lutfi)

 

Lamongan, Pojok Kiri.com- KH. Mastur Asnawi merupakan salah satu ulama besar yang sangat dihormati oleh masyarakat Lamongan, khususnya warga Nahdlatul Ulama (NU).

Beliau dikenal sebagai sosok kharismatik yang mendapat dukungan dari berbagai kalangan masyarakat dan menjadi panutan dalam kehidupan keagamaan di wilayah Lamongan.

KH. Mastur Asnawi, atau yang akrab disapa Mbah Yai Mastur, lahir di Lamongan pada hari Rabu Wage, 10 Muharram 1313 H, bertepatan dengan 3 Juli 1895 M.

Sepanjang hidupnya, beliau dikenal aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama dan tercatat sebagai Ketua Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lamongan pertama dan terlama. Masa kepemimpinannya berlangsung selama tiga dekade, dari tahun 1952 hingga 1982.

Beliau terpilih sebagai Rais Syuriah dalam Konferensi Cabang NU Lamongan pertama yang diselenggarakan di Sendangduwur, Paciran, Lamongan, pada tahun 1952. Konferensi tersebut diprakarsai oleh Raden Maulani yang sekaligus menjadi tuan rumah pelaksanaan kegiatan bersejarah itu.

Kiai Mastur menghembuskan napas terakhir pada hari Senin Kliwon, 2 Agustus 1982 M, di usia 87 tahun, karena sakit tua. Beliau wafat di rumah kediamannya di Kranggan, Sidokumpul, Lamongan.

Jenazahnya dimakamkan di dalam area Masjid Agung Lamongan, berdampingan dengan makam ulama besar lainnya, KH. Mahmud.

Wafatnya KH. Mastur Asnawi disambut duka mendalam oleh masyarakat Lamongan. Ribuan pelayat hadir untuk mengiringi kepergian beliau ke tempat peristirahatan terakhir.

Suasana duka tak hanya dirasakan keluarga, tetapi juga oleh masyarakat luas yang kehilangan sosok ulama yang menjadi panutan dalam kehidupan beragama.

Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya, Pemerintah Kabupaten Dati II Lamongan secara rutin mengadakan ziarah ke makam KH. Mastur Asnawi setiap kali memperingati Hari Jadi Lamongan. Tradisi ini menjadi bentuk penghormatan sekaligus pengakuan atas peran penting beliau sebagai tokoh sentral keagamaan di Lamongan.(lut)