
Surabaya, Pojokkiri.com.-
Anggota komisi E DPRD Jawa Timur Suli Da’im mengatakan longsor yang terjadi di Trenggalek beberapa hari lalu disebabkan banyaknya lahan di wilayah tersebut alih fungsi, “tanah menjadi lentur dan tidak ada lagi akar yang menahan tanah, “ujar politisi PAN ini, Selasa(3/6/2025).
Menurutnya, banyak daerah pegunungan di wilayah tersebut beralih fungsi dari hutan menjadi lahan yang memang akarnya tidak ada misalnya jagung dll. “Pasti tentunya akan membawa lumpur dan mengakibatkan longsor ketika hujan. Hal ini juga terjadi di Trenggalek yang mengalami longsor beberapa hari lalu,” jelasnya.
Menurutnya harus ada tim terpadu untuk mengatasi tersebut dengan tujuan jangka panjang. “Ya solusinya tentunya reboisasi yang harus terus dilakukan agar tidak terjadi banjir dan longsor, ” lanjutnya.
Suli Da’im lalu membeberkan sejumlah keuntungan dari reboisasi diantaranya memiliki dampak positif yang signifikan bagi lingkungan, termasuk peningkatan kualitas udara, pencegahan erosi tanah, dan perlindungan keanekaragaman hayati. “Selain itu, reboisasi juga membantu memerangi perubahan iklim dengan menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan membantu menjaga keseimbangan ekosistem,” tuturnya.
Reboisasi, menurutnya adalah langkah penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan menciptakan masa depan yang lebih hijau.” Dengan melakukan reboisasi, kita dapat menciptakan ekosistem yang lebih sehat, mengurangi dampak negatif perubahan iklim, dan memastikan keberlanjutan sumber daya alam bagi generasi mendatang,” tutupnya.
Sekedar diketahui,bencana longsor berskala besar terjadi di RT 16 RW 7, Dusun Kebonagung, Desa Depok, Kecamatan Bendungan kabupaten Trenggalek. Sebanyak 10 rumah terdampak, tiga di antaranya tertimbun total. (wan)

