Pojokkiri.com

Angka Anak Tidak Sekolah di Kecamatan Brondong Menduduki Peringkat Ke-1 Se-Lamongan

 

Peluncuran program Aksi Biru (Anak Tidak Sekolah Kembali Sekolah) di Aula Gajah Mada, Lantai 7 Gedung Pemkab Lamongan.(Pojok Kiri/Zainul Lutfi)

 

Lamongan, Pojok Kiri.com- Pemerintah Kabupaten Lamongan resmi meluncurkan program Aksi Biru (Anak Tidak Sekolah Kembali Sekolah Melalui Bakti Insan Guru) sebagai wujud komitmen dalam menuntaskan angka anak tidak sekolah (ATS). Peluncuran program ini digelar di Aula Gajah Mada, Lantai 7 Gedung Pemkab Lamongan.

Sekretaris Daerah Kabupaten Lamongan, Moh Nalikan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tantangan besar dalam mewujudkan generasi emas Lamongan adalah menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan berpendidikan. Ia menegaskan, tingginya angka ATS dapat menghambat kemajuan daerah di masa depan.

“Ini tantangan yang besar karena anak-anak itu adalah generasi yang akan menggantikan kita. Ketika banyak anak tidak sekolah, maka beberapa tahun ke depan Lamongan akan menurun, baik dari sisi pendidikan maupun ekonomi,” tegas Nalikan.

Berdasarkan data Pusdatin per Juli 2025, jumlah ATS di Lamongan mencapai 7.553 anak, yang terdiri dari belum pernah bersekolah (BPB): 4.318 anak, drop out (DO) 1.937 anak dan lulus tidak melanjutkan (LTM): 1.298 anak

Angka ini mengalami penurunan dibandingkan tahun 2022 yang tercatat 9.002 ATS. Meski demikian, Pemkab menyoroti pentingnya verifikasi data by name by address, terutama di 10 kecamatan dengan angka ATS tertinggi.

Adapun 10 kecamatan tersebut adalah Kecamatan Brondong 735 anak, Kecamatan Paciran 700 anak, Kecamatan Babat 682 anak, Kecamatan Laren 537 anak,Kecamatan Sekaran 424 anak.

Kemudian Kecamatan Maduran 382 anak, Kecamatan Solokuro 342 anak, Kecamatan Kedungpring 295 anak, Kecamatan Sugio 290 anak dan Kecamatan Lamongan 254 anak.

“Kita harus pastikan 7.553 anak ini terverifikasi dengan baik. Banyak kegiatan gagal sasaran karena data yang tidak akurat. Misalnya, program ditujukan untuk SMA, padahal ATS-nya justru banyak di jenjang SMP,” tambahnya.

Sementara itu, Waji, penggagas program Aksi Biru dari Dinas Pendidikan Lamongan menjelaskan, ATS akan diberikan dua pilihan jalur pendidikan, yakni formal dan nonformal. Pendekatan ini dilakukan agar anak-anak dapat memilih sesuai kondisi dan kebutuhannya.

Sebagai bentuk pendampingan, Dinas Pendidikan melibatkan 500 guru PAUD dari Himpaudi dan IGTKI, dengan rasio 1 guru untuk 15 anak asuh. Setiap anak akan mendapatkan kunjungan dan pendampingan minimal satu bulan sekali.

Program Aksi Biru diharapkan menjadi langkah strategis dalam memutus rantai putus sekolah dan membangun SDM unggul di Kabupaten Lamongan.(lut)