Pojokkiri.com

Kisah Haru Misdiah: Pemulung 30 Tahun yang Berjuang Demi Keluarga dan Impian Naik Haji

Kisah Haru Misdiah: Pemulung 30 Tahun yang Berjuang Demi Keluarga dan Impian Naik Haji

Surabaya Pojokkiri.com Di sudut kecil Kota Surabaya, tepatnya di kawasan Jalan Semolowaru Selatan Gang 1 Nomor 22C, tersimpan kisah seorang ibu tangguh yang menjadi simbol ketegaran dan cinta tanpa syarat.

Sebut saja Misdiah, janda berusia (51 tahun), telah mengabdikan hidupnya sebagai pemulung selama lebih dari tiga dekade demi menghidupi anak dan cucunya.

Setiap pagi, sejak matahari terbit hingga menjelang senja, Misdiah berkeliling mengumpulkan rongsokan. Dengan penghasilan hanya Rp15.000 hingga Rp20.000 per hari, ia tetap menjalani hari-harinya dengan penuh semangat.

“Walaupun sedikit, saya tetap bersyukur. Ini semua untuk anak dan cucu saya. Saya tidak mau merepotkan mereka,” tutur Misdiah, dengan mata yang mulai redup akibat terkena cipratan cairan pembersih lantai, pada Sabtu (21/12).

Namun, di balik perjuangannya yang luar biasa, Misdiah menyimpan impian besar: menunaikan ibadah haji ke tanah suci. “Saya ingin sekali naik haji. Doakan saya ya,” ucapnya dengan suara penuh harap.

Anaknya, Santi, yang kini berusia 27 tahun, merasa bangga sekaligus terharu dengan kegigihan ibunya.

“Saya sudah meminta ibu berhenti bekerja, tapi ibu tetap bersikeras. Ibu selalu bilang ingin membantu keluarga,” kata Santi, yang tak henti-hentinya mendoakan agar cita-cita sang ibu dapat segera terwujud.

Kisah Misdiah menyentuh hati siapa saja yang mendengarnya. Di tengah segala keterbatasan, ia membuktikan bahwa cinta seorang ibu adalah kekuatan yang tak tergoyahkan. Perjuangannya selama lebih dari 30 tahun menjadi inspirasi tentang arti keteguhan hati, kerja keras, dan pengorbanan demi keluarga.

“Semoga ibu bisa segera naik haji,” doa Santi, yang mewakili harapan semua orang yang mengenal sosok luar biasa ini.

Kisah Misdiah adalah pengingat bagi kita semua bahwa di balik setiap ibu, ada kekuatan yang mampu menggerakkan dunia. Hari Ibu tahun ini menjadi momen yang tepat untuk menghargai perjuangan mereka, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh seorang ibu pemulung berhati mulia seperti Misdiah (Sam).